19 June 2010

Twitter, Orang Biasa & Silent Majority


Bicara soal demokratisasi, belakangan ini terjadi fenomena cukup menarik di kancah perpolitikan Nasional. Hadirnya situs-situs jejaring social yang digandrungi masyarakat berhasil mengungkapkan suara-suara yang selama ini tidak dikenal di masyarakat, yakni suara orang biasa, suara silent majority. Orang-orang yang memang bukan politikus tapi memiliki keprihatinan atas kondisi bangsa menyuarakan suara mereka lewat media sosial seperti Twitter dan memiliki kekuatan yang mulai cukup diperhitungkan.

Siapa itu Silent Majority? Mereka adalah orang yang selama ini tidak pernah bersuara di media konvensional. Media seperti surat kabar, majalah, radio, atau televisi tentunya melakukan pemilihan akan suara siapa yang hendak mereka gemakan. Mereka umumnya tertarik dengan tokoh-tokoh yang terkenal dan cenderung kontroversial karena mereka mencari perhatian masyarakat atas pemberitaan media mereka. Sedang anda dan saya, mungkin tunggu kita terkena musibah dahulu, baru media akan datang mewawancarai kita, meminta apa komentar kita.

Abad 21 adalah era Internet dan Internet sendiri sedang mengembangkan aplikasi web 2.0 yang memungkinkan partisipasi dari para penggunanya. Contohnya saja Twitter yang datang dalam sebuah tampilan sederhana sebagai sarana cuap-cuap dengan maksimal 140 huruf. Ini seakan kita memiliki media kita sendiri untuk berpendapat dan didengar oleh siapa saja yang mau mendengar kita berbicara. Banyak orang terkenal dengan mudahnya mengumpulkan banyak followers di Twitter, namun Twitter juga melahirkan bintang-bintang baru, yakni orang-orang yang selama ini tidak dikenal, tenggelam dalam kerumunan rakyat, untuk bersuara dan didengar. Fitur ReTweet memungkinkan efek bola salju dari setiap tweet yang kita buat, dimana isi tweet kita tidak hanya dibaca oleh follower kita tapi juga oleh follower dari follower kita dan seterusnya dan seterusnya hingga lapisan yang tidak terhingga. Now, you get your voice heard.

Pada saat yang sama bangsa kita sedang mengalami benyak kejadian yang menggambarkan permainan politik yang licik, yang tidak memikirkan rakyat banyak, namun memikirkan kepentingan mereka sendiri. Bukan lagu baru memang, tapi ini semua mulai terungkap belakangan seiiring dengan disadarkannya masyarakat bahwa media konvensional juga tidak netral. Mereka punya kepentingan dan keberpihakan terutama dengan kepentingan sang pemilik media. Di saat hal-hal seperti ini terjadi, maka media 2.0 seperti Twitter menjadi sarana baru mendapatkan informasi dan berdiskusi dan bersuara.

Sekarang mulai terkumpul orang-orang biasa, orang-orang yang tidak dikenal publik, orang-orang yang tidak pernah diliput oleh media konvensional. Mereka sekarang mulai terlihat pengaruhnya walau masih seperti awan setapak tangan, tapi semua adalah pertanda bahwa awan yang lebih besar akan datang, dan kemudian hujan lebat, perubahan akan terjadi. Orang-orang biasa inilah The Silent Majority. Mereka adalah mayoritas tapi selama ini mereka dipasung hak suaranya. Mereka adalah pemilik sah Republik demokratis ini, namun suara mereka dibungkam oleh kartel penguasa dan pengusaha. Selama ini mereka dianggap tidak penting, tapi akan tiba waktunya mereka akan merebut kembali negeri yang menjadi hak mereka.
Dari tweet saya, rekan blogger saya Mas Gembol terinspirasi membuat kaos dengan kutipan tweet saya yang menggambarkan gerakan Silent Majority orang-orang biasa ini. Kaos ini akan segera diproduksi dan anda akan bisa memesannya dengan Distro KDRI jika sudah selesai produksi. Saya tidak mendapat untung apa-apa dari kaos ini, namun saya sudah cukup senang karena dari sebuah tweet bisa hadir perubahan nyata atas bangsa ini. Bravo!

Follow me on twitter: @revolutia

09 June 2010

Mengapa Perlu Layanan Kesehatan Gratis Untuk Semua?


Berbicara soal layanan kesehatan, kita semua tentu mengkaitkannya dengan biaya. Tidak ada dari kita yang ingin jatuh sakit, namun manakala itu terjadi situasinya bagi kalangan yang kurang mampu ialah seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Selain biaya layanan kesehatan yang sifatnya memaksa, kita juga akan kehilangan penghasilan. Oleh karena itu, ada sebuah ungkapan "orang miskin tidak boleh sakit."

Orang sakit tidak mampu bekerja dan menghasilkan uang. Tidak sedikit orang yang harus kehilangan pencahariannya karena jatuh sakit. Pengeluaran untuk biaya pengobatan juga semakin mahal. Dokter yang berkualitas hanya tersedia bagi kalangan kaya karena tarif mahalnya. Rumah Sakit dengan fasilitas lengkap terbuka lebar bagi yang sanggup bayar. Sedang orang miskin? Harus puas dengan Rumah Sakit Umum yang terkenal dengan pelayanan yang seadanya dan dokter yang dipertanyakan kualitasnya. Bagi kalangan menengah? Seringkali tabungan yang sudah dipersiapkan bertahun-tahun harus terkuras karena biaya pengobatan yang mahal.

Industri farmasi yang memproduksi dan memasarkan obat juga seringkali menambah masalah pada lingkaran setan ini. Obat dijual mahal karena tentunya industri farmasi juga ingin mengambil untung (namanya juga bisnis). Belum lagi kerjasama dengan para dokter dalam rupa komisi untuk setiap resep yang menggunakan produk obat dari perusahaan farmasi mereka. Lebih banyak obat di dalam resep, semakin banyak juga komisi yang diterima dokter. Namun banyak masyarakat yang tidak sadar akan hal ini. Mereka pasrah saja membeli setiap obat yang diresepkan.

Solusi untuk masalah biaya pengobatan dan layanan kesehatan tentunya ialah asuransi. Jika seseorang memiliki asuransi, maka masalah kekhawatiran akan biaya pengobatan akan teratasi. Kita membayar premi rutin dan sebagai gantinya asuransi memberikan jaminan menanggung semua biaya kesehatan kita dari dokter, obat, hingga rumah sakit. Tapi sedihnya asuransi pada ujungnya bukannya memberikan solusi, namun malah menambah masalah baru pada lingkaran setan layanan kesehatan.

Masalah pertama tentu saja tidak semua orang sanggup untuk membeli premi asuransi. Sebagian besar rakyat Indonesia tidak memiliki asuransi apapun. Kalangan menengah pun mendapatkan asuransi dari perusahaan tempat mereka berkerja, dengan kata lain manfaat asuransi akan dicabut manakala yang bersangkutan berhenti atau di PHK oleh tempat mereka berkerja. Untung saja kalangan miskin mendapat akses ke Jamkesmas yang dibiayai oleh negara, namun sebagian besar rakyat tetap tidak terasuransi.

Masalah kedua ialah perusahaan asuransi (terutama swasta) menjalankan usaha asuransi tentunya dengan maksud meraih keutungan. Tentu saja mereka mau untung, kalau merugi maka mereka akan gulung tikar. Akibatnya ialah mereka (asuransi swasta) akan menanggung biaya kesehatan anda selama anda sehat dan kuat, namun ketika anda sakit, mereka akan meninggalkan anda. Semua asuransi kesehatan swasta membuat polis mereka sedemikian rupa sehingga mereka bisa tidak bertanggungjawab ketika anda sakit parah atau mencapai usia senja. Manfaat asuransi yang seharusnya kita butuhkan ketika kita sakit dan tua, justru membuat kita terjebak, sehingga kita ditinggalkan seorang diri pada saat kita butuh mereka.

Oleh karena itu perlu ada solusi atas semua ini, solusi yang berkeadilan sosial. Masalah kesehatan adalah masalah hidup mati seseorang dan oleh karena itu tidak seharusnya layanan kesehatan dijadikan sebuah bisnis dengan tujuan mencari keuntungan. Pemerintah sebagai pihak yang berkepentingan melindungi dan merawat warganya seharusnya mengambil peran untuk melindungi rakyatnya dalam bentuk jaminan sosial yang layak tanpa pandang bulu.

Solusi yang terbaik ialah Jaminan Kesehatan Menyeluruh yang dibiayai sepenuhnya oleh negara. Dengan kata lain negara sebagai single-payer asuransi kesehatan atas seluruh rakyat, baik kaya maupun miskin. Efek yang bisa kita dapat dari kebijakan ini ialah penggratisan semua biaya kesehatan dari Sabang hingga Merauke. Tidak ada lagi biaya dokter. Tidak ada lagi komisi resep obat. Tidak ada lagi obat mahal. Tidak ada lagi biaya rumah sakit. Semuanya gratis. Semua orang baik miskin maupun kaya memiliki akses yang sama ke layanan kesehatan. Tidak ada lagi cerita dokter yang hanya merawat orang kaya atau orang miskin yang harus kehilangan nyawa karena kurang uang. Saya memimpikan kelas-kelas di rumah sakit tidak lagi dikelompokan atas dasar kemampuan ekonomi, tapi atas dasar jenis penyakit yang diderita.

Pertanyaan anda selanjutnya pasti dari mana pemerintah membiayai semua ini? Bukankah semuanya jika ditanggung oleh negara akan membutuhkan dana yang besar? Dananya tentu diambil dari pajak. Apakah artinya kita harus menambah beban pajak? Menurut saya tidak perlu. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengubah alokasi anggaran dari yang kurang perlu seperti subsidi BBM & listrik ke layanan kesehatan yang lebih penting. Jika negara-negara lain bisa melakukannya termasuk negara-negara yang masih miskin, kenapa kita yang masuk G-20 tidak bisa melakukannya.