31 December 2016

Berkelana di Hangzhou dan Suzhou (Bagian IV)

Suasana kota air Zhouzhuang yang seperti mimpi

上有天堂, 下有苏杭 (shàng yǒu tiāntáng, xià yǒu sūháng)
Atas sana ada Surga, bawah sini ada Suzhou dan Hangzhou

Demikian pepatah kuno yang membawa saya mengunjungi kedua kota yang kental dengan budaya Jiangnan tersebut. Tulisan ini adalah bagian empat dari seri tulisan saya. Klik untuk baca bagian pertama, bagian kedua, dan bagian ketiga.

Pada bagian sebelumnya saya sudah sedikit bercerita mengenai kota Suzhou, terutama dari sisi rumah taman (yuanlin) dan juga kebudayaan rakyat terutama Suzhou Pingtan dan Kunqu Opera. Pada bagian ini saya akan melanjutkan dengan membahas mengenai ekonomi, sutera, dan juga kota air.

Membayangkan Suzhou di masa lalu ialah seperti melihat Shanghai di zaman sekarang, yakni pusat komersial terbesar di Asia. Suzhou merupakan pusat komersial sejak abad ke-10 zaman Dinasti Song, dan berlanjut terus hingga ke masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing hingga terjadinya Pemberontakan Taiping yang berhasil merebut Suzhou tahun 1860. Hal tersebut yang akhirnya menjadi titik balik bagi kota Shanghai, yang hanya berjarak 100 km dari Suzhou. Akibat perang, aktivitas bisnis dan niaga pindah ke kota Shanghai, Suzhou akhirnya harus kehilangan pamornya. Namun saat ini, Suzhou tetap menyandang status sebagai kota makmur yang warganya berpendidikan dengan ekonomi menengah ke atas, terutama akibat industri teknologi dan industri jasa yang berkembang pesat. Kota ini memproduksi laptop paling banyak di dunia dan penduduknya memiliki pendapatan per kapita sekitar 17.000 USD, nomor 3 diantara kota-kota besar di Tiongkok bahkan mengalahkan Beijing dan Shanghai.

Mesin tenun sutera yang bisa dilihat di Suzhou Silk Museum

Salah satu faktor utama pendukung ekonomi Suzhou di masa lalu ialah sutera dan kita tahu bahwa zaman dulu sutera adalah komoditas ekspor utama Tiongkok. Kita tentunya ingat jalur perdagangan klasik yang menghubungkan pasar Eropa dengan pasar Asia dikenal dengan sebutan Jalur Sutera dan pusat produksi dan perdagangan sutera Tiongkok ada di Suzhou. Saya berkunjung ke Suzhou Silk Museum untuk mempelajari lebih lanjut mengenai produksi sutera dan sejarahnya. Kunjungan ke Suzhou tidak akan lengkap tanpa berbelanja sutera dan memang kualitasnya beda jauh dengan yang saya temui selama ini.

Selain itu kunjungan ke Suzhou juga tidak akan lengkap tanpa berkunjung sambil memakai cheongsam ke 2 buah jalan legendaris, yakni Pingjiang Lu (平江路) yang berusia 800 tahun dan Shantang Lu (山塘街) yang berusia 1.200 tahun:

  • Dengan panjang 1.606 meter, Jalan Pingjiang ada di sepanjang Sungai Pingjiang. Anda akan melihat rumah-rumah khas Suzhou kuno dengan dinding putih dan ubin hitam. Jalan ini merupakan pusat dari Gusu (kota tua) Suzhou dan hanya sedikit yang berubah sejak Dinasti Song, sekitar 800 tahun yang lalu. Selama berabad-abad, Jalan Pingjiang telah menjadi pusat kehidupan budaya Suzhou dengan toko-toko buku dan teater opera lokal yang khas. Ada juga banyak kedai-kedai teh, di mana orang berkumpul untuk pertunjukan Suzhou Pingtan (baca bagian tiga). Selain itu, terdapat juga Museum Pingtan dan Museum Opera Kunqu di jalan ini. Sebagaimana saya, Anda bisa menyelusuri Jalan Pingjiang dengan berjalan kaki seusai berkunjung dari Humble Administrator's Garden (Zhuozheng Yuan) dan Lion Forest Garden (Shizilin) yang ada di satu area.
  • Jalan Shantang dianggap sebagai 'Jalan Pertama' di Suzhou, karena telah ada sejak 1.200 tahun yang lalu. Sepanjang 3,5 kilometer, ada banyak arsitektur tradisional Tiongkok di sepanjang tepi sungai. Ini adalah tempat yang baik untuk berjalan-jalan santai, terutama pada sore-malam hari, ketika lentera-lentera menyala dan menambahkan nuansa romantis untuk tempat ini. Anda wajib mencoba segala macam makanan tradisional Suzhou di sepanjang jalan ini. Jalan Shantang dibangun oleh pujangga Bai Juyi. Kalau ingat bagian pertama tulisan ini tentunya akan tahu kalau Bai Juyi juga ikut menata West Lake di Hangzhou. Anda bisa mengunjungi Jalan Shantang dengan berjalan kaki seusai berkunjung ke Tiger Hill dan Lingering Garden (Liu Yuan).
  • Pujangga Su Shi (yang juga ikut menata West Lake di Hangzhou - lihat bagian pertama) pernah berkata, "Anda akan menyesal seumur hidup apabila datang ke Suzhou, tapi tidak mengunjungi Tiger Hill". Well, saya pribadi benar menyesal karena tidak kesampaian main ke Tiger Hill (虎丘 dibaca Hŭqiū) sekali lagi karena keterbatasan waktu.

Akhirnya mengunjungi Suzhou tidak akan lengkap tanpa berkunjung ke salah satu kota air, yang menjadi inspirasi untuk kota Venesia di Italia. Kalau kita ingat sejarahnya, pengelana Italia bernama Marco Polo mengunjungi Hangzhou dan Suzhou di masa lampau dan memperkenalkan diantaranya ide kota air dan juga mie, yang kemudian dikenal sebagai spageti di Italia. Ada banyak kota air di sekitar Suzhou dan anda bisa melihat perbandingannya di artikel ini. Setidaknya ada 2 kota air yang lebih populer yakni Zhouzhuang dan Tongli. Saya memilih mengunjungi Zhouzhuang karena terpesona oleh foto-foto yang saya lihat di internet dan saya tidak menyesal karena yang saya lihat langsung sama cantiknya dengan foto-foto yang beredar. 

Losmen yang saya tempati di Zhouzhuang

Saya naik bus dari Suzhou menuju Zhouzhuang dari terminal bus di Suzhou Railway Station dan menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer mencapai Zhouzhuang Bus Station (周庄汽车站). Dari stasiun bus, Anda bisa naik taksi menuju pintu gerbang Zhouzhuang Ancient Town yang memakan waktu sekitar 10 menit, Sewaktu di terminal bus Suzhou, saya sudah membeli tiket bus yang sudah termasuk dengan pass masuk ke dalam kota air Zhouzhuang. Saya menginap semalam di sebuah losmen sederhana bernama 周庄梦江南客栈 (Zhōuzhuāng mèng jiāngnán kèzhàn) yang terletak di dalam kota air. Saya memilih kamar lantai 2 yang menghadap langsung ke sungai, sehingga saya bisa menikmati suasana klasik kota air sambil menikmati teh hijau yang disajikan oleh tante pemilik losmen. Pada malam hari, tante tersebut juga baik hati tiba-tiba memberikan saya semangka secara cuma-cuma. Saya hanya membayar 189 yuan untuk semalam dan dapatkan kamar yang besar dan seperti yang saya inginkan, yakni dengan pemandangan sungai di balkoni.

Mengunjungi Zhouzhuang itu seperti kembali ke masa lalu dan suasananya sangat amat romantis. Sayang saya hanya kesana seorang diri, LOL. Tapi saya berniat lain kali harus kembali lagi bersama pasangan dan habiskan waktu lebih lama karena 24 jam yang saya habiskan di sana terasa terlalu terburu-buru karena Zhouzhuang harus dinikmati dengan santai seolah-olah Anda tinggal di sana. Jika Anda ikut tur, biasanya Anda akan mengunjungi Zhouzhuang sebagai bagian dari paket tur Shanghai, dimana Anda hanya akan ada di Zhouzhuang beberapa jam saja. Sungguh rugi sekali karena walaupun tempat ini punya banyak sudut foto yang bagus untuk selfie, Anda akan kehilangan spirit dari tempat ini, karena merasakan tinggal di Zhouzhuang beberapa hari akan merupakan hal yang sangat amat romantis. Satu hal yang tidak saya sukai ketika berkunjung ke sini ialah cuaca yang kurang bersahabat. Ketika saya di Hangzhou, saya mendapatkan cuaca mendung sepanjang hari yang asyik. Di Suzhou, saya kehujanan non-stop selama 2 hari hingga saya harus membeli payung baru. Di Zhouzhuang, terang berderang namun lembab luar biasa, sehingga keringat mengucur non-stop. Tentunya itu karena saya berkunjung di bulan Juli. 

Ada banyak aktivitas yang dapat Anda lakukan di Zhouzhuang dan semuanya bisa Anda dapatkan di guidebook yang bisa Anda minta pada petugas pariwisata yang ada di mana-mana dan beberapa bisa bahasa Inggris. Yang sangat saya rekomendasikan ialah tentunya naik perahu (yang menginspirasi gondola di Venesia). Setiap perahu dikayuh oleh petugas wanita yang merupakan ibu-ibu warga lokal. Perahu akan membawa Anda mengelilingi kota air dan menikmati suasananya. Anda bisa meminta ibu pengemudi untuk bernyanyi dan dia akan menyanyikan sebuah lagu lokal dalam dialek Wu. Sungguh pengalaman luar biasa. Jangan lupa memberikan tips untuk nyanyian bagusnya. Lihat video saya berikut untuk gambaran pengalamannya. Saya menyarankan untuk naik perahu pada pagi hari ketika belum banyak rombongan turis yang datang.



Hal lain yang saya rekomendasikan ketika di Zhouzhuang ialah menonton pertunjukan "Zhouzhuang in Four Seasons" yang megah dan romantis. Para pemeran pertunjukan adalah warga lokal dan pertunjukan berlangsung setiap hari dari bulan April hingga November. "Zhouzhuang di Four Seasons" memperkenalkan adat istiadat rakyat dan tradisi otentik dan gaya hidup asli warga Zhouzhuang melalui kisah cinta Shen Wansan, pengusaha terkaya di wilayah itu pada masa Dinasti Ming (1368-1644) dengan Lu Liniang.



Pada tulisan selanjutnya, saya akan memberikan beberapa tips untuk berkelana sendirian di Tiongkok. Saya belum tahu kapan akan selesaikan tapi nantikan saja.

Berikut beberapa foto yang saya ambil dari henpon pribadi sewaktu di Suzhou dan Zhouzhuang:

Makanan kecil yang dapat ditemukan di Jalan Pingjiang

Pengamen erhu di Jalan Pingjiang

Sebuah perahu kosong di Zhouzhuang

Pemandangan dari atas perahu di Zhouzhuang
Zhouzhuang aslinya sama persis

Perahu-perahu untuk mengelilingi kota air Zhouzhuang

Pementasan Kunqu Opera di Ancient Stage, Zhouzhuang


Tulisan terkait:

Enter your email address below:

No comments:

Post a Comment