24 April 2009

Demokrasi Yang Kian Menghasilkan Buah


Tidak terasa perjalanan bangsa kita sudah melewati lebih dari satu dasawarsa pasca Reformasi 1998. Telah banyak hal yang dihasilkan oleh Reformasi tersebut diantaranya keterbukaan informasi dan demokratisasi rakyat di bangsa ini. Pelan-pelan bangsa Indonesia belajar untuk menghargai perbedaan pendapat dan tidak lagi berada di bawah stigma bahwa perubahan itu harus dikendalikan oleh arus atas karena arus bawah ternyata punya peranan yang besar untuk mengendalikan arus atas.

Sekarang bukan lagi waktunya kita khawatir akan pemilu yang rusuh karena iklim demokrasi sudah mulai memasyarakat. Sebagai akibatnya stabilitas negara pun terjaga dan ekonomi bisa pelan-pelan tumbuh. Meskipun pada pokoknya, tetap pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang berperan besar dalam menentukan arah bangsa ini ke depan, namun rakyat bangsa kita sudah mulai bisa menilai para politisi berdasarkan kebijakan-kebijakan yang mereka buat. Aura primordialisme dimana kita memberikan dukungan buta para politisi dari suku, agama, ras dan golongan tertentu pun mulai ditinggalkan. Kultur bangsa kita sudah sedemikian maju meninggalkan Malaysia yang masih mirip seperti Orde Baru, Thailand yang memiliki konflik antar golongan, dan Singapura yang monoton.

Kita bisa melihat dalam pemilu kemaren dimana MK membuat keputusan yang benar dengan meloloskan caleg dengan suara terbanyak yang terpilih. Meski pada prakteknya masih terdapat banyak kecacatan, namun secara garis besar pelajaran yang bisa diambil ialah suara rakyat tidak bisa dibeli dengan uang. Dana kampanye yang jor-joran tidak menjamin elektabilitas dan tidak selamanya partai besar akan tetap besar. Komposisi anggota dewan kita 2009-2014 akan diisi oleh banyak muka-muka baru yang bisa dipastikan akan merubah arah perpolitikan kita ke depan untuk semakin policy concious. Pada ujungnya, para pejabat akan menyadari bukan uang atau koneksi mereka yang membuat mereka menjadi wakil rakyat, namun keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan yang mereka buat yang akan menentukan karir politik mereka. Tentu saja DPR ke depan masih jauh dari sempurna, namun arah perbaikan mulai terlihat.

Jika ke depan bangsa ini akan konsisten mendukung pemimpin yang anti-korupsi sehingga ke depannya kita akan melihat perbaikan di segala bidang. Bangsa ini sudah mulai masuk ke dalam G-20 dan diperhitungan di percaturan dunia sebagai negara dengan ekonomi kuat. Kepemimpinan yang kuat oleh Dr. Sri Mulyani di Departemen Keuangan dengan merombak tempat basah itu menjadi tempat bermartabat telah meraih kepercayaan banyak pelaku saham, bisnis, dan perbankan. Terbukti dengan menjadikan Indonesia negara dengan fiskal konservatif, maka kita bisa bertahan dari ancaman badai ekonomi global yang dipicu dari defisit berlebihan oleh banyak negara.

Yang harus dikejar ke depan ialah kebijakan-kebijakan yang berpihak ke rakyat, seperti penghapusan subsidi komoditas entah itu BBM atau yang lainnya termasuk sembako karena itu sama saja dengan membakar uang. Sangat amat menguras biaya namun hasilnya nihil ditelan oleh waktu. Yang harus dilakukan ialah subsidi orang karena dengan demikian bangsa ini akan keluar dari krisis pengangguran dan kemiskinan. Dengan mensubsidi orang, yakni pendidikan dan kesehatan, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar. Pendidikan gratis dan pelayanan kesehatan gratis akan meningkatkan derajat manusia dan bernilai jauh lebih penting dari BBM murah atau sembako murah.

Mari kita berharap pemilu presiden 2009 akan bisa menghasilkan perubahan signifikan dan berharap bangsa ini bisa bijak memilih pemimpin yang pro-rakyat dan bukan pro-jabatan.

19 April 2009

Swat Valley: Paradise Lost

Swat Valley is just like a paradise on earth. A very beautiful and calm valley in northern part of Pakistan. Nature's beauty can be experienced. It can be linked to Switzerland - a land of rivulets, forests, snow-capped mountains, luscious green fertile valleys and its temperate climate. It is also the home of ancient Buddhism and a major center of Gandhara civilization.

With high mountains, green meadows, and clear lakes, it is a place of great natural beauty that used to be popular with tourists as "the Switzerland of Pakistan". In December 2008 most of the area was captured by the Taliban insurgency and is now too dangerous for tourism. Islamist militant leader Maulana Fazlullah and his group Tehreek-e-Nafaz-e-Shariat-e-Mohammadi have banned education for girls and have bombed or torched "more than 170 schools ... along with other government-owned buildings."

WARNING: Due to the ongoing military operation since August 2007, foreigners should steer clear of this area (even Pakistanis are doing so). There is a checkpoint at Chakdara where the road to Dir and Swat split that you will probably be stopped at, if you even get that far.








Let's stop terrorism and extremism so that the tourists from all around the world can visit this paradise again.

16 April 2009

You And I

YOU AND I
written by Stevie Wonder & sung by Michael Buble

Here we are On earth together It's you and I God has made us fall in love It's true I've really found Someone like you Will it stay The love you feel for me Will you say That you will be by my side To see me through Until my life is through Well in my mind We can conquer the world In love you and I You and I, you and I... I'm glad At least in my life I've found someone That may not be here forever To see me through But I found strength in you Cause in my mind You will stay here always In love you and I You and I, you and I You and I, you and I You and I In my mind We can conquer the world In love you and I You and I, you and I You and I...