11 January 2015

The Leftovers, Charlie Hebdo, dan QZ 8501


Suatu hari yang sepertinya biasa saja seperti hari lainnya, namun tiba-tiba seorang ibu berteriak karenanya anak bayinya hilang sekejab. Bukan hanya dia yang kehilangan, namun juga secara ajaib ada banyak orang baik tua, muda, bahkan janin yang tiba-tiba menghilang dari muka bumi pada saat yang sama. Setelah diselidiki, ada sekitar 140 juta orang menghilang tiba-tiba dari muka bumi. Itu adalah 2% dari total penduduk bumi. Tidak ada yang tahu mereka pergi kemana dan apakah mereka akan kembali lagi. Sementara sisa penduduk bumi yang masih 'beredar' harus berusaha memahami apa yang terjadi. Ada yang menderita karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Ada yang berusaha move on. Ada yang tidak paham kenapa dirinya tidak ikut menghilang. Itulah tema dari The Leftovers.

Salah satu tontonan menarik yang gue saksikan belakangan adalah serial The Leftovers dari HBO, sebuah drama seri yang dikemas dengan sangat baik dari sisi cerita maupun artistik produksi. Gue suka sama film yang bikin kita mikir dan The Leftovers adalah salah satunya. Diambil dari novel dengan judul yang sama karya Tom Perotta, drama seri The Leftovers ditulis langsung oleh Perotta dan juga Damon Lindelof. Season pertama sebanyak 10 seri telah ditayangkan dan sekarang sedang dipersiapkan season kedua.


The Leftovers berfokus pada sebuah kota kecil bernama Mappleton di New York. Tokoh utama ialah Kevin Garvey, kepala polisi yang punya sentimen unik terkait peristiwa Sudden Departure (istilah yang dipakai untuk kejadian lenyapnya 2% populasi bumi). Tidak ada anggota keluarga Garvey yang ikut menghilang saat Sudden Departure kecuali janin di rahim istrinya, namun pasca kejadian, dia harus menghadapi kenyataan pahit, yakni kehilangan keluarganya ketika rumah tangganya berantakan.

Sebelum Sudden Departure, hubungan Kevin dengan istrinya Laurie, telah mencapai titik terburuk oleh karena masalah komunikasi diantara keduanya. Pada saat kejadian, Kevin sedang berselingkuh dengan seorang wanita yang baru saja dikenalnya dan wanita itu kemudian menghilang tiba-tiba, menimbulkan luka trauma dalam diri Kevin. Laurie sedang memeriksakan janinnya pada saat kejadian dan terungkap bahwa dia belum bisa memberitahu Kevin perihal kehamilannya karena buruknya hubungan mereka. Janin tersebut menghilang dan Laurie merasakan kepedihan mendalam.


Laurie bergabung dalam sebuah kelompok kultus bernama The Guilty Remnant (sisa yang merasa bersalah). Kelompok ini senantiasa mengenakan pakaian putih-putih dan menolak untuk berbicara satu patah kata pun. Mereka hanya berkomunikasi via tulisan. Mereka juga senantiasa terlihat sedang merokok dan mengamati orang-orang lain yang berusaha move on dari Sudden Departure. Mereka punya misi, yakni ingin membuat semua orang ingat kepedihan Sudden Departure dan merasa bersalah karena berusaha move on dan berpura-pura nothing is ever happening. Oleh karena itu, mereka berusaha merekrut anggota dengan berdiri di pinggir jalan, mengamati dan mengikuti target prospek mereka. Banyak yang akhirnya merasa terganggu dan menyerang kelompok ini. Namun ada juga yang akhirnya merasa bersalah dan ikut bergabung ke dalam kelompok aneh ini.

Tom adalah anak laki-laki Laurie dari perkawinan pertamanya yang diadopsi kemudian oleh Kevin. Pasca kejadian sudden departure, Tom menjadi pengikut seorang bernama Holy Wayne yang mengaku dirinya semacam nabi yang mampu mengangkat penderitaaan dari orang-orang yang batinnya tersiksa akibat Sudden Departure. Sebagai pengikut setia yang percaya pada kemampuan ajaib Holy Wayne, Tom selalu mengikuti dengan patuh setiap perintah dari sang guru, termasuk ketika dirinya harus membawa lari dan melindungi seorang wanita bernama Christine yang tengah mengandung anak dari Wayne, pasca markas mereka diserang dan Wayne menjadi buronan karena terlibat penipuan massal. Belakangan terungkap kalau Christine bukan hanya satu-satunya wanita yang dihamili oleh Wayne, Ternyata ada banyak perempuan-perempuan Asia di bawah umur yang jadi sarana pemuasan syahwat sang Holy Wayne. Tom merasa tertipu.

Jill adalah anak perempuan Kevin dan Lauri yang masih bersekolah. Jill harus menerima kenyataan pahit ibundanya meninggalkan rumah dan bergabung dengan kelompok aneh The Guilty Remnant. Hubungannya dengan ayahnya semakin kacau ketika mengetahui sahabat baiknya telah tidur dengan Kevin, ayahnya. Kemudian dia memutuskan untuk ikut bergabung dengan GR mengikuti ibunya.

The Leftovers juga menyorot karakter-karakter lain di Mappleton yang berhubungan dengan keluarga Garvey dan punya penderitaan batin masing-masing. Matt adalah seorang pendeta yang merasa pahit karena dirinya tidak ikut menghilang dalam Sudden Departure. Dia kemudian menyerang orang-orang yang menghilang, menyebut mereka pendosa dan kejadian Sudden Departure bukanlah rapture yang ditulis di Alkitab, karena justru orang-orang jahat yang menghilang. Adik Matt, bernama Nora, harus menerima kenyataan pahit menghilangnya suami dan kedua anak-anaknya yang masih kecil. Hanya dia sendiri yang tertinggal dan kemudian dia mengetahui kalau suaminya berselingkuh dengan guru TK anak-anaknya.

Pergulatan emosi di The Leftovers memuncak ketika The Guilty Remnants mengirimkan mannequin mereka yang hilang ke rumah-rumah keluarga mereka. Kemarahan memuncak dari seluruh penduduk Mappleton yang marah karena mereka ulah GR dan akhirnya terjadi kerusuhan massal. Anggota-anggota GR menjadi sasaran amuk massa dan banyak yang terluka dan meninggal. Selaku kepala polisi, Kevin berhadapan dengan pilihan sulit antara menjalankan tugasnya menertibkan massa, atau menyelamatkan Laurie dan Jill dari amuk massa.


The Guilty Remnants membuat saya teringat pada kejadian di dunia nyata, yakni penyerangan teroris terhadap Charlie Hebdo baru-baru ini. Yang dilakukan GR adalah provokasi "we made them remember" dan akibatnya mereka jadi sasaran amuk massa yang terprovokasi oleh ulah kelompok ini. Mereka berdiri di pinggir jalan dengan tampang sinis, sambil merokok menatapi orang-orang yang berusaha menikmati hidup, membuat banyak orang terganggu dan marah. Kartunis Charlie Hebdo kurang lebih melakukan yang sama, berusaha berdiri di pinggir jalan, berdiri sinis dengan satir mereka, berupaya membuat orang terprovokasi, dan akhirnya beneran ada yang kemakan dan bertindak brutal menyerang. Nobody likes to be provoked, apalagi kalau sudah menyentuh urusan batin. Contoh sederhana, kalau ada yang menghina orang tua kita di depan kita, pastinya kita akan beri bogem mentah ke orang tersebut.


Kemudian saya mendapati foto selebaran di media sosial, salah satu orang yang lolos dari musibah QZ8501 akibat gagal naik, mengatakan kalau dirinya lolos dari maut karena pertolongan Tuhan. Lalu mengapa dia ditolong Tuhan? Apakah para korban pesawat naas tersebut benar lebih buruk dari orang ini? Apakah tragedi tersebut adalah hukuman Tuhan? Tidak ada yang tahu. Sama seperti tidak ada yang tahu kenapa di The Leftovers si A, si B, dan si C menghilang saat Sudden Departure sedang si D, si E, dan si F tidak. Kita tidak pernah tahu kenapa misalnya orang lain yang meninggal duluan sebelum kita dan kenapa kita bisa lolos dari musibah atau maut. We don't know and we'll never know. Semua adalah misteri ilahi. The Leftovers hingga akhir cerita tidak berusaha menjelaskan apa yang terjadi, namun bagaimana orang-orang berusaha memahami apa yang terjadi.

Akhirnya, The Leftovers membuat gue berpikir tentang kehidupan. Ada atau tidak kejadian Sudden Departure, kenyataannya semua orang di muka bumi bergumul dengan penderitaan batin mereka masing-masing yang mungkin akibat kehilangan figur-figur tertentu dalam kehidupan. Mungkin itu ayah kita, mungkin itu ibu kita, mungkin itu kakek atau nenek kita, mungkin itu sahabat kita, mungkin itu kekasih kita. Kita kehilangan mereka dan berusaha menghadapinya, entah dengan tenggelam dalam rasa sakit seperti The Guilty Remnant, entah dengan berusaha move on, entah dengan berusaha melupakan.

Bacaan terkait:


Enter your email address below: