Translate

22 April 2013

X Factor, The Voice, dan Idol


Semua follower gue di twitter pasti tahu kalau gue sering live tweet pada saat acara X Factor Indonesia dan The Voice Indonesia. Yap, gue emang penikmat acara reality show musik mulai dari Idol, X Factor, hingga The Voice. Bukan hanya di edisi Indonesia, tapi gue memang mengikuti acara American Idol, The X Factor USA, dan The Voice US dari lama. Tulisan gue kali ini akan membahas mengapa acara yang satu lebih dapat penonton atau rating ketimbang acara lainnya dari sudut pandang penonton.

Di Amerika

American Idol memiliki kenangan mendalam karena acara ini membangun referensi musik gue hingga sekarang gue menyenangi lagu-lagu barat jadul. Acara ini memang membuat terkenal Simon Cowell, juri yang memiliki latar belakang A&R dan dikenal dengan komentar sangarnya dengan logat British yang kental. Namun acara ini mulai redup sejak ditinggalkan oleh Simon Cowell, yang kemudian merintis The X Factor USA yang kurang begitu sukses. Sekarang American Idol sudah memasuki musim ke 12 dan acara ini mulai ditinggalkan banyak penontonnya salah satunya karena dewan juri yang boring yang terdiri dari Randy Jackson, Keith Urban, Mariah Carey, dan Nicky Minaj. Momentum ini dimanfaatkan oleh The Voice yang lagi naik daun dengan susunan dewan juri yang kompak dan jenaka.

Juri memang menjadi faktor utama kesuksesan acara reality show musik karena kalau diperhatikan lebih banyak slot waktu yang diberikan untuk juri berbicara ketimbang untuk peserta bernyanyi. Oleh karena itu mempunyai panel juri yang disukai penonton sangatlah penting. The Voice memiliki susunan juri yang terdiri dari Blake Shelton, Christina Aguilera, Cee Lo Green, Adam Levine, Shakira, dan Usher. Mereka dikenal kompak, serasi, jenaka dan jauh lebih menyenangkan ditonton ketimbang pilihan dewan juri yang dipilih American Idol seperti Jennifer Lopez, Steven Tyler, Keith Urban, Nicky Minaj, atau bahkan salah satu juri yang paling membosankan sepanjang sejarah: Mariah Carey.


Saya akui Mariah Carey adalah seorang penyanyi luar biasa dan saya sendiri adalah seorang penggemar, namun ternyata dirinya tidak cocok menjadi juri kontes nyanyi oleh karena pembawaannya yang boring. Yang bisa mengalahkan Mariah Carey mungkin adalah Britney Spears, yang pernah menjadi juri The X Factor USA namun dipecat setelah 1 musim karena cuma bisa memberikan komentar 1 kalimat untuk setiap penampilan peserta. Beda jauh dengan Shakira (The Voice US) yang menurut saya adalah juri perempuan terbaik sepanjang sejarah. Saya awalnya ragu dengan Shakira menjadi juri, terlebih saya bukan penggemar. Namun semakin saya menonton The Voice, semakin saya jatuh cinta dengan sosok Shakira yang fun, ekspresif, dan bisa melucu.

Berikut perbandingan ketiga acara:
  • American Idol (Fox): Mencari penyanyi berbakat yang belum pernah ditemukan sebelumnya dan proses from zero to hero dengan menyanyikan lagu-lagu cover dari era zaman dulu. Acara ini banyak ditonton generasi tua yang ingin melihat lagu era mereka dinyanyikan oleh penyanyi yang lebih muda. Acara ini juga dikenal dengan kecenderungan WGWG (white guy with a guitar) untuk menjadi juara.
  • The X Factor USA (Fox): Mencari penyanyi berbakat yang belum punya label rekaman untuk diorbitkan menjadi penyanyi terkenal lewat proses mentoring para juri. Acara ini kurang sukses di Amerika, terbukti dengan dewan juri yang silih berganti akibat tidak berhasil menaikan rating. Kelebihan acara ini ialah memperbolehkan para penyanyi hip-hop ikut serta, sesuatu yang tidak ditemui di American Idol dan The Voice US.
  • The Voice US (NBC): Mencari penyanyi berbakat dengan suara unik yang sudah punya pengalaman namun belum berhasil menjadi penyanyi terkenal dan lewat proses coaching para juri akhirnya menjadi sukses. Para peserta diminta untuk menyanyikan lagu-lagu zaman sekarang dengan versi mereka. Acara ini lebih banyak ditonton oleh penonton usia lebih muda.

Di Indonesia

Ketiga acara tersebut juga diadaptasi menjadi versi lokal Indonesia. Seperti halnya Fox di Amerika, RCTI menayangkan Indonesian Idol dan X Factor Indonesia sedang Indosiar menayangkan The Voice Indonesia.

Indonesian Idol sudah berlangsung cukup lama dan mengalami pasang surut. Terakhir tahun lalu, acara ini kembali menemukan momentumnya setelah memperbolehkan peserta menyanyikan lagu berbahasa Inggris setelah sebelumnya diredam di musim-musim sebelumnya. Pelajaran ini diambil juga ketika RCTI membuat X Factor Indonesia. Alhasil, rating X Factor sangat tinggi dan rata-rata peserta X Factor menyanyikan lagu berbahasa Inggris sambil sesekali menyanyikan lagu berbahasa Indonesia.

Dengan memperbolehkan peserta menyanyikan lagu Bahasa Inggris, tentunya akan membuat acara lebih berwarna karena pilihan genre musik yang jadi lebih beragam. Musik Indonesia selama ini lebih didominasi aliran Pop-Rock dan membuka akses ke lagu berbahasa Inggris, pilihan genre bisa berkembang ke Jazz, R&B, Hip-Hop, Country, Soul, hingga Blues. Para peserta dengan selera musik yang baik tentunya akan menambah kualitas penampilan musiknya di atas panggung. Hal ini terlihat dari peserta X Factor musim pertama yang memiliki peserta-peserta yang bisa lintas genre seperti Shena, Isa, Novita, dan Agus.


The Voice Indonesia sebenarnya memiliki peserta-peserta yang paling berkualitas dibanding acara reality show musik apapun yang pernah ada di Indonesia. Namun sepertinya acara ini belum berhasil booming seperti Indonesian Idol maupun X Factor. Menurut saya modal dasarnya sudah cukup baik: peserta yang bagus serta mewakili hampir semua genre musik dan juga dewan juri yang asyik, namun saya mendengar beberapa keluhan penonton tentang acara ini:
  • Jam tayang yang kurang pas. Selain jamnya nanggung (Minggu malam jam 8), acara ini juga head-to-head dengan The Voice US yang ditayangkan di AXN di jam yang sama. Penonton yang memiliki akses ke TV berbayar tentunya lebih pilih menonton The Voice US ketimbang The Voice Indonesia.
  • Pilihan lagu yang semakin ke sini semakin Indonesia. Bukan saya anti lagu Indonesia, namun belajarlah dari kesuksesan Indonesian Idol dan X Factor Indonesia, dimana lagu barat kasih lebih banyak peluang untuk penyanyi explore. Lagipula, rata-rata peserta di babak blind audition menyanyikan lagu barat bukan? Artinya ya mereka rata-rata lebih nyaman nyanyi lagu barat mestinya.
  • Format acara yang masih mengikuti format asli The Voice. Perkembangan terbaru di The Voice US, diperkenalkan sistem STEAL dan TOP 12 yang lebih menarik.
  • Kualitas video YouTube yang kurang bagus, burem, dan kayak direkam pakai VCR.
  • Bahasa Inggris di situs resminya bikin geleng-geleng kepala. Grammar mas Grammar.
  • Kurang penyanyi cowok muda ganteng kayak model Mikha Angelo di X Factor yang bisa bikin trending topic dalam sekejab.
Harapan saya tentunya kualitas acara reality show musik di Indonesia semakin baik lagi sehingga saya sebagai penonton terpuaskan. Akhir kata, X Factor Indonesia baiknya segera memecat Rossa dari dewan juri dan Indonesian Idol baiknya jangan pernah pakai Anang jadi juri lagi.

Related Posts:

Enter your email address:

13 April 2013

Belajar Online Gratis dan Bermutu


Pada tulisan blog sebelumnya saya membahas mengenai bagaimana mendapatkan beasiswa dan pada tulisan blog saya kali ini akan membahas mengenai berbagai kesempatan untuk belajar online yang gratis dan juga bermutu. Pendidikan yang bermutu akan menghasilkan pembelajaran yang bermutu yang berujung pada perbaikan nasib seseorang. Harus juga disadar kalau education is a right, it's not a privilege. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak karena pendidikan adalah bagian dari hak asasi seseorang, entah dia miskin atau kaya.

Saya pernah menjadi guru selama 7 tahun dan saya sudah pernah mengajar di sekolah yang kebanyakan muridnya anak tidak mampu dan juga sekolah yang kebanyakan muridnya anak orang kaya. Satu hal yang saya simpulkan dari pengalaman saya tersebut ialah yang membuat seseorang berhasil belajar bukanlah fasilitas, namun motivasi untuk belajar. Anak-anak miskin di kisah Laskar Pelangi tidak mendapatkan sekolah dengan fasilitas lengkap, namun mereka punya motivasi belajar yang tinggi, sehingga bisa mencapai kesuksesan. Sedang ada anak-anak dari kalangan mampu memiliki akses dan fasilitas untuk belajar, akhirnya tetap menjadi bodoh karena mereka tidak punya motivasi untuk belajar.

Murid-murid di sekolah mahal yang pernah saya ajar mendapatkan fasilitas laptop pribadi dari sekolah. Namun apa yang mereka lakukan dengan laptop tersebut? Mereka malah main game di jam pelajaran. Pada satu titik, sekolah bahkan sempat mengeluarkan kebijakan untuk menyita laptop selama sebulan, akibat begitu banyaknya pelanggaran dalam penggunaan laptop. Mereka punya kesempatan, namun tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik, oleh karena tidak memiliki motivasi belajar. Apabila mereka serius, internet adalah perpustakaan at your finger tip. Siapapun zaman sekarang yang ingin belajar, akan mencari referensi mereka di internet. Sayang sekali orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk belajar.

Nah, ada beragam sumber belajar online yang gratis dan bermutu. Syarat yang dibutuhkan cuma 2: kemampuan menyerap pelajaran dalam Bahasa Inggris dan koneksi internet yang cepat.

==> Untuk anak sekolah

1. Crash Course!


Crash Course! adalah channel YouTube yang menyediakan kelas singkat pelajaran Sejarah, Kimia, Biologi, Sastra Inggris, dan Ekologi. Crash Course! disajikan secara cepat namun interaktif dan menarik. Saya menemukan materi disajikan dengan menarik dan tidak membosankan, walaupun Mr Green menyampaikan materinya dengan cepat dan kilat. Hal ini tidak akan menjadi masalah bagi yang Bahasa Inggrisnya sudah jago. Ini channelnya: KLIK DISINI

2. Khan Academy


Khan Academy bermula dari Salman Khan yang ingin memberikan les matematika pada sepupunya yang tinggal di kota lain. Tutorial tersebut diterbitkan online di YouTube dan ternyata banyak yang mendapatkan manfaat sehingga Salman terpaksa membuat lebih banyak video tutorial. Saat ini, Khan Academy sudah memiliki 4.000 lebih video yang dapat diakses secara gratis oleh siapapun. Pelajaran yang disajikan di Khan Academy adalah Matematika, IPA, Ekonomi, Teknik Komputer, hingga Sejarah. Silakan berkunjung ke situsnya: KLIK DISINI

==> Untuk anak kuliah atau orang kerja

1. Coursera


Coursera memberikan kesempatan bagi siapapun yang ingin belajar untuk mendapatkan kelas online yang diajar langsung oleh professor-professor dari universitas-universitas ternama di dunia. Saya termasuk salah satu mahasiswa yang mengambil kelas di Coursera dan rasanya memang seperti kuliah jarak jauh karena selain ada video tutorial, juga ada textbook, diskusi, tugas, dan ujian seperti layaknya kuliah beneran. Coursera cocok banget untuk yang ingin belajar secara serius dan jika berhasil menyeselesaikan kelas dengan baik juga akan dihargai dengan sertifikat online dari universitas ternama. Ada kesempatan juga untuk bertukar pikiran dan kerja kelompok dengan pengambil kuliah Coursera lain dari berbagai negara. Info lebih lanjut, lihat saja di websitenya: KLIK DISINI

2. EdX


EdX kurang lebih sama dengan Coursera, kuliah online gratis dengan sertifikat, perbedaannya cuma EdX didirikan oleh 2 universitas ternama Amerika: Harvard dan MIT. Kelas-kelas EdX juga masih sedikit namun tentunya akan semakin banyak pilihan nantinya seiring waktu. Informasi lebih lanjut, lihat saja di websitenya: KLIK DISINI

3. Udacity


Udacity memiliki misi yang sama seperti Coursera dan EdX, perbedaannya menurut saya Udacity lebih terlihat seperti kursus ketimbang kuliah. Kelas-kelas yang ditawarkan Udacity juga masih sedikit, namun tentunya akan terus bertambah seiring waktu. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di websitenya: KLIK DISINI

Jadi tunggu apa lagi? Mari belajar dari sekarang karena belajar itu tidak pernah ada ruginya.

Related posts:
Enter your email address:

07 April 2013

Bagaimana Mendapatkan Beasiswa Kuliah di Luar Negeri


Scholarship! Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil percakapan dengan beberapa teman gue yang sudah berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri.  Apa yang gue tulis hanya merupakan panduan secara garis besar dan untuk detail yang lebih khusus, gue sarankan untuk tidak bertanya pada gue tapi bertanya pada rekan kamu yang sudah berhasil, karena ini bukan pengalaman gue pribadi secara gue ga ngebet untuk kuliah di luar negeri karena gue punya prinsip "elo mau kuliah di Harvard sekalipun, ujung-ujungnya juga disuruh buka Google".

Kuliah di luar negeri adalah sesuatu yang menarik karena beberapa faktor, diantaranya karena kualitas pendidikan yang konon lebih baik. Hal ini sedikit banyak ada benarnya menurut gue dilihat dari pengalaman gue dengan dosen-dosen pas gue kuliah S1 dulu. Dosen-dosen lulusan luar negeri cenderung lebih berwawasan luas ketimbang dosen-dosen lulusan dalam negeri. Faktor lain tentunya adalah kesempatan untuk tinggal di luar negeri dan mendapatkan pengalaman baru yang pastinya beda dengan pengalaman berkuliah di dalam negeri. Selain itu ada faktor anggapan bahwa lulusan luar negeri akan mendapat gaji lebih besar ketimbang lulusan dalam negeri. Hal ini menurut gue hanya mitos saja kecuali kalau elo anak boss sehingga sepulang dari luar negeri langsung mendapat posisi tinggi di perusahaan bonyok.

Beasiswa dicari karena ada faktor ekonomi dan pemburu beasiswa umumnya mencari beasiswa karena kurang mampu secara finansial untuk membiayai pendidikannya. Untuk itu, bagi banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu atau pas-pas-an tentunya mendapatkan beasiswa itu seperti mendapatkan impian terkabul. Selain itu tidak sedikit dari para pemburu beasiswa yang berharap untuk bisa pindah ke negara lain demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Kelompok ini menurut saya tidak perlu dibantu karena jelas tidak nasionalis dan mengagung-agungkan negara lain ketimbang tanah air tercinta Indonesia. Mereka adalah kalangan oportunis yang akan menghalalkan segara cara untuk mendapatkan keuntungan dan semua koruptor awalnya berasal dari kalangan oportunis ini. *pasang perisai sebelum ditimpukin tomat*

Nah, yang seringkali dilupakan para pemburu beasiswa ialah perspektif pemberi beasiswa. Kenapa cinta loe ditolak, salah satunya ialah karena elo terlalu terbenam pada diri sendiri sehingga elo ga peka sama kebutuhan dan keinginan gebetan elo. Untuk dapatkan gebetan itu sebenarnya modalnya cuma 2: percaya diri dan riset. Kenapa riset? ya cari tahu dulu si doski sukanya apa, demennya apa, harapannya apa. Dari situ elo bisa hadir sebagai kekasih impian dia. Kalau doski ga suka bunga, mau elo tembak 100 kali pake bunga dari jenis mawar sampe raflessia, ya tetep bakalan akan ditolak. Dalam perkara berburu beasiswa, prinsip yang sama juga berlaku. Cobalah berpikir dari kacamata pemberi beasiswa dan bukan dari kacamata sebagai pemburu beasiswa.

Hal ini kelihat jelas ketika pemburu beasiswa ditanya soal apa alasan dia harus mendapatkan beasiswa dan bukan pemburu lainnya. Konon, jawaban yang paling banyak keluar ialah "karena saya tidak mampu secara ekonomi, jadi saya harus mendapatkan beasiswa ini". Itu adalah jawaban yang akan membuat file kamu langsung masuk ke kotak sampah detik itu juga. Kenapa jawaban itu gak laku? Lho koq pake nanya. Yang ngasih beasiswa itu bukan bokap elo jadi dia ga punya tanggung jawab untuk nyekolahin elo. Masih bingung? Sono, jedukin kepala dulu ke tembok 10 kali.

Yang perlu semua pemburu beasiswa ketahui ialah kalau scholarship is not a charity, beasiswa itu bukan amal, terutama ketika diberikan oleh sebuah badan yang punya agenda dan budget untuk melaksanakan agenda tersebut. Beasiswa yang diberikan pemerintah negara lain tentunya punya agenda dan alasan sehingga mereka rela habiskan jutaan dollar uang pembayar pajak negara mereka untuk nyekolahin anak dari negara lain. Emangnya di negara mereka semua bisa sekolah sampai tinggi? Emangnya di negara mereka sudah tidak ada lagi rakyat ga mampu yang harus dirawat negara? Apa justifikasi untuk program pemberian beasiswa untuk rakyat negara lain ketika di negara mereka sendiri masih ada anak putus sekolah? Coba deh renungkan ini baik-baik sehingga ngerti perspektif para pemberi beasiswa.

Semua program beasiswa punya motif dan agenda yang dibawa dan ini harus dimengerti oleh para pemburu beasiswa. Bahkan beasiswa yang diberikan oleh pihak swasta sekalipun punya motif dan agenda tersendiri, minimal untuk pencitraan perusahaan tersebut. Ketika pemburu berhasil mengerti apa motif dan agenda dari pemberi beasiswa, maka akan lebih mudah untuk mendapatkan beasiswa karena sudah tahu bagaimana menjawab semua pertanyaan interview dengan baik dan pas. Ketika pemberi beasiswa berhasil menemukan orang yang sesuai kriteria mereka dan bisa membawa misi yang mereka bawa, maka itu namanya jodoh.

Perlu diingat kalau pemberi beasiswa hanya tertarik dengan kandidat-kandidat yang mereka anggap potensial. Definisi potensial itu mungkin lebih gampangnya diterjemahkan sebagai influential (berpengaruh). Semakin berpengaruh seorang kandidat, semakin pemberi beasiswa ngebet untuk mendapatkannya. Kenapa harus yang influential? Ya karena ada motif dan agenda itu tadi. Ngapain ngasih beasiswa sama orang yang ga punya koneksi, pengaruh, dan dampak. Bener gak? Jadi ada kandidat-kandidat yang most wanted, yakni orang-orang yang sudah mempunyai pengaruh dan juga ada kandidat-kandidat yang diproyeksikan untuk mempunyai pengaruh di masa depan, entah lewat pekerjaan, jabatan, atau karya mereka. Kedua kelompok tersebutlah yang berpeluang besar dapatkan beasiswa. Jadi kalau ditanya mau jadi apa, bilang aja mau jadi presiden, soalnya presiden kan pengaruhnya gede banget. Tapi ga tahu ya apakah panitia seleksi percaya apa enggak kalo elo bisa jadi presiden, hehehehe.

Kesalahan klasik lainnya yang sering dilakukan pemburu beasiswa ialah mengatakan kalau mereka mau pindah atau kerja di negara pemberi beasiswa. Ini samalah kayak orang yang nembak gebetan dan mengatakan kalo dia mau jadian karena dia cinta mati ama tuh gebetan. That's pathetic, dude! Kalau nembak itu ngomong yang bener itu gini: "gue tahu kalo elo suka ama gue, dan guess what, gue juga suka ama elo. Gue mau ngajak elo jadian sekarang juga." dan ini punya probabilitas lebih besar untuk diterima cintanya. Dalam hal berburu beasiswa, pastikan untuk mengatakan seusai beasiswa, elo mau pulang ke Indonesia dan membuat dampak di masyarakat dengan skill yang elo pelajari pas kuliah di sana. Itu punch line yang lebih kena dan probabilitas untuk diterima jadi lebih gede.

Tentunya elo bakal butuh banyak persiapan lain seperti masalah administratif dan akademik. Untuk kedua hal tersebut udah banyak yang kasih referensi dan silakan googling sendiri. Pesan akhir gue cuma kalau berhasil nanti, jangan lupa kembali ke halaman blog ini dan mengucapkan terima kasih. So, good luck!

Related post:

Enter your email address: