13 January 2004

Between Me & Brennan?

Hey yo,
Minggu ini adalah minggu disaster buat gue...musibah demi musibah..bad news demi bad news...datang silih berganti. Tapi gue justru lagi nemuin diri gue jatuh cinta lagi sama Yesus...untuk yang kesekian kalinya. Yang gue maksud dengan jatuh cinta ialah, I'm having a strong feeling towards Him. Gue selalu dan akan selalu cinta Yesus. Tapi emosi kita, seperti kata Dr. James Dobson, bergerak naik-turun. Ada waktunya kita merasa seperti di puncak gunung, ada kalanya kita merasa berada di kedalaman lembah. Tapi iman dan kasih tidak tergantung perasaan/emosi. Iman dan kasih tergantung dari komitmen dan keputusan kita.
--
Dah seminggu ini, gue gak bisa baca alkitab lebih dari 2 pasal...soalnya nangis melulu. Mirip kayak zaman dulu waktu masih jadi new believer. Gue lagi terhanyut dan terpesona sama kasih Yesus sehingga gue gak dapet efek apa-apa dari segala masalah yang datang bertubi-tubi ke gue.
--
Memang kayaknya ini ada hubungannya sama Brennan Manning...orang yang bukunya "Tanda Tangan Yesus" lagi gue baca saat ini dan masih belon selesai. Gue gak bisa baca lebih dari 1 bab setiap hari karena selalu berakhir dengan doa persekutuan gue dengan Papa di Sorga. Gue heran koq gue akhirnya bisa ketemu sama orang yang hampir 100% sepaham sama gue. Tulisan dia di buku itu tentang "Radical Discipleship" menerjemahkan apa yang ada di otak gue selama sebulan terakhir. Buku itu memang buruk dari segi penerjemahan tapi isinya masih tetap merubah hidup.
--
Brennan punya pandangan yang sama dengan gue dalam hal "discipleship"...Tuhan memanggil kita jadi disciple yang left everything behind and follow him n gak sekedar believer. Brennan juga sepaham dengan gue soal gereja, yakni gereja haruslah sebuah community bukan organisasi/perusahaan. Brennan juga sepaham dengan gue dalam hal anti-teologi kemakmuran.
--
Masih banyak lagi hal lainnya dan salah satunya yang gue baca pagi ini di bab tentang "prayer and worship". Konsep prayer and worship yang sejati, terus terang, menurut gue telah dirusak oleh kebanyakan gereja karismatik. Orang karismatik umumnya kan mengidentikan prayer dengan bahasa roh dan worship dengan lagu pujian ato musikalisasi bahasa roh. Don Moen dan genk nya kayaknya yang paling bersalah dalam hal ini. Mereka menidentikan hadirat Allah dengan "persaan-perasaan kudus" yang datang lewat musik yang diurapi. Salah besar! Hadirat Tuhan ada di dalam roh kita, karena kita adalah kediaman Tuhan....so, it's inside you bukan outside you. Hadirat Allah tidak ditandai dengan "perasaan-perasaan khusus" ato tangan yang "gemetar-gemetar". Hadirat Allah ada karena kita beriman kalo Tuhan hadir BUKAN merasa Tuhan hadir. True worship adalah sikap hari yang mengakui lordship-nya Tuhan bukan gerakan mengangkat tangan dan memancarkan ekspresi wajah mendayu-dayu sambil mulut komat-kamit. Gereja karismatik telah "mendramatisir" apa yang mereka sebut pengalaman rohani.
--
Gue lahir baru dan bertumbuh di lingkungan karismatik. So, gue dulu punya konsep seperti itu tentang prayer and worship sampai Tuhan datang ke gue dan merubah paradigma gue. Ia mengajari gue doa yang adalah "fellowship and the communion of the Spirit". Sebuah doa dan penyembahan yang merubah hidup. Yang membuat gue semakin serupa dengan Dia. Dan itu ditemukan dlam sebuah simple prayer yang sebanarnya bisa dilakukan oleh siapapun yang mau..tapi sayang banyak yang tidak mau menjalaninya. Kita, by nature, lebih suka suasana yang gegap gempita dengan sorak-sorai, dibanding sebuah doa yang lahir dari kerendahan hati seorang murid. Sebuah gaya doa yang dilakoni Yesus waktu dibumi. Gaya doa yang dilakukan para 'jenderal doa' seperti David Brainerd, Maddame Guyon, Sadhu Sundar Singh, EM Bounds, dan masih banyak lagi termasuk Manning. Sayang doa seperti ini tidak di-ekspos di gerakan karismatik.Gaya doa seperti apa yang gue maksud....tunggu saja blog selanjutnya dari gue atau...you baca aja bukunya Brennan Manning yang gue rekomendasikan.

1 comment:

~~Devita~~ said...

"Iman dan kasih tergantung dari komitmen dan keputusan kita." >> really?

tapi emang yah kalo lagi baca buku yang pas banget, kita bisa dapet lebih dan bisa mengapresiasi setiap kata yang tersurat.

buku mana yang dierkomendasikan? "Radical Discipleship"?

Post a Comment