15 December 2005

Grace-Driven® Church



Grace-Driven® Church By JED-ReVoLuTia™
******
Kisah dalam artikel berikut ini fiktif belaka
dan dibuat hanya untuk tujuan mempermanis pesan utama
******

"Tuhan, aku bingung harus bagaimana?" Demikianlah kira-kira bunyi doaku pada Tuhan hari ini. Kondisi keuanganku sedang buruk-buruknya karena banyaknya tagihan yang mesti dibayar dalam tenggat waktu yang singkat, sedang penghasilanku mengalami penurunan. Kulihat dompetku, aku hanya menjumpai uang sebesar dua puluh delapan ribu rupiah. "Malam ini aku harus ke gereja" pikirku.
-
Sudah lima tahun aku tidak pernah memberikan kolekte sebesar seribu rupiah. Aku selalu memberikan jumlah lebih bahkan bisa dibilang amat besar mengingat kecilnya penghasilanku, namun aku lakukan itu semua dengan sukacita tanpa persungutan. Tapi malam ini, dengan sedih hati aku hanya bisa memberikan seribu rupiah, karena aku kurang iman untuk memberikan lembaran dua puluh ribuan. Semoga masa krisis ini cepat berlalu pikirku.
-
Sesampainya di gereja, pikiranku tidak bisa tenang. Aku memikirkan tagihan seratus ribu rupiah yang harus aku bayar esok pagi. Aku memikirkan uang sebesar ratusan ribu lainnya yang harus aku keluarkan untuk membayar tagihan lain-lainnya lagi. Uang tabunganku hanya tinggal tujuh ratus ribu. "Apa cukup hingga akhir bulan saat gajian" pikirku lagi. Malam itu aku berharap sebuah keajaiban, sebuah jalan keluar, sebuah kemenangan seperti layaknya cerita-cerita iman yang sering aku dengar di gereja.
-
Kuingat bahwa Alex, salah seorang jemaat, baru saja mendapatkan mujizat. Mobil yang sering dipakainya akhir-akhir ini memang sering ngadat dan harus bolak-balik masuk bengkel. "Dasar memang barang tua" pikirku atas kondisi mobil Alex. Namun Alex sekarang bersukacita. Aku bisa merasakannya ketika aku melihat ekspresi wajahnya ketika memuji Tuhan saat kami menyanyikan pujian bagi Tuhan. Jelas saja Alex bersukacita karena ia baru saja mendapat mobil baru dari menang undian yang diadakan sebuah bank. "Ah, kalau saja ada mujizat juga untukku" gumamku lagi.
-
Tubuhku memang ada di kebaktian malam itu, namun pikiranku ada nun jauh dimana. Aku membayangkan andaikata aku benar-benar ada di sebuah gereja, tentu keadaannya akan banyak jauh berbeda. Tunggu dulu, bukankah aku memang sedang ada di sebuah kebaktian di sebuah gereja? Memang benar, namun gereja harusnya lebih dari ini. Gereja adalah tubuh Kristus, perwakilan Kristus di dunia. Gereja adalah kaki tangannya Yesus untuk menjamah dan memulihkan orang-orang yang terluka dan tertindas di dunia ini. Gereja adalah sebuah solusi, sebuah jalan keluar, sebuah misi penyelamatan.
-
Andaikata aku berjumpa Yesus saat itu, tentu aku meminta tolong padaNya. "Tuhan, tidakkah Kau tahu keadaanku?" tanyaku. Samar-samar aku dengar Yesus berkata, "Aku tahu anak-Ku. Bukan hanya tahu, tapi aku malah lebih tahu dari kamu tentang masalahmu." "Oh Tuhan, kalau begitu mengapa Kau tidak jawab doaku dengan mujizat?" tanyaku lagi. "Aku tidak bisa berbuat apa-apa, anakKu. Aku tidak punya kuasa lagi. Semua sudah Ku-serahkan pada gereja-Ku." Jawab Yesus dengan air mata di mata-Nya.
-
Kalau saja, kalau saja, kalau saja, gereja memang seperti yang Yesus mau. Seharusnya ketika aku datang ke gereja hari ini, aku bisa datang dengan air mata permasalahan. Aku tidak perlu pasang muka munafik tanpa masalah. Aku bisa bebas cerita semua masalah dan bebanku tanpa perlu merasa malu dan tanpa perlu dihakimi sebagai 'kurang iman', 'tidak dewasa', dan 'kurang berdoa'. Aku seharusnya bisa menjatuhkan diriku diatas tangan kasih karunia gereja dan menemukan sebuah tempat aman, sebuah persembunyian, sebuah oasis. Namun, tidak ada wajah bersahabat di gereja. Mereka seolah ingin mengatakan bahwa mereka sudah punya cukup banyak masalah di rumah karena itu jangan kau coba-coba ceritakan masalahmu padaku. Dengan gampangnya mereka bisa menjawab masalahku dengan sebuah kata mutiara "doa dengan iman akan memindahkan semua gunung permasalahan", padahal yang sebenarnya dikatakan hati mereka ialah "aku tidak peduli apapun masalahmu". Buat apa aku cerita, jika aku sudah tahu jawaban ya dan amin yang akan aku dapat.
-
Tanpa sadar, waktu penyembahan telah usai. Sekarang semua jemaat duduk manis sementara mendengarkan khotbah pak pendeta tentang cara keluar dari masalah tanpa menyulitkan atau mengganggu anggota jemaat lainnya. Tiba-tiba, Yusuf, jemaat yang duduk disebelahku mengatakan sesuatu, "kapan kau bayar iuran bulan pengurus sekolah minggu?". Aduh Tuhan, bagaimana ini. Lalu dengan senyum aku menjawab dia dengan jawaban yang sama yang kukatakan padanya sebelumnya berkali-kali, "besok ya". Sudah tiga bulan aku tidak bayar iuran dan aku satu-satunya pengurus yang menunggak. "Oke, sekalian sama iuran natal ya besok" jawab Yusuf lagi. Hatiku tambah pedih rasanya.
-
Seandainya aku adalah salah satu murid Yesus, seandainya aku ada di gereja mula-mula di Kisah Para Rasul, tentu keadaannya akan jauh berbeda. Jawaban atas masalah keuanganku bukanlah perpuluhan. Jawabannya bukanlah dengan menabur lebih banyak. Jawabannya bukan dengan menambah jam doa. Jawabannya adalah jawaban. Aku mulai membaca di kitab Kisah Para rasul demikian, "Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya." Mengapa gereja Yerusalem bisa menjadi sebuah jawaban dari kebutuhan jemaat akan Yesus? Karena mereka memikiki kasih karunia yang melimpah-limpah.
-
Ketika aku lihat jemaat sekitarku yang sedang mengangguk-angguk untuk mengatakan "Amin" kepada kata-kata pak pendeta, aku sadar jika gereja saat ini telah jauh dari gambaran gereja yang semula. Tidak ada satu orang pun disini yang peduli atau pun mau membantu kondisi keuanganku. Jikapun mereka memberikan bantuan keuangan, itu hanya kepada pak pendeta, agar namanya disebut di kebaktian minggu berikutnya. Gereja seharusnya adalah sebuah komunitas. Gereja adalah rumah. Gereja adalah sebuah keluarga.
-
Aku bayangkan hebatnya gereja seperti itu. Ketika aku telah penat kerja seharian mencari nafkah, ketika kepalaku sudah hampir pecah dengan semua urusan di kantor, ketika aku naik darah karena terjebak kemacetan, aku selalu punya harapan akan menutup hari dengan kedamaian. Aku punya harapan karena aku tahu ketika aku sampai di rumah, tidak ada yang akan menghakimiku, tidak ada yang menyalahkanku, tidak ada yang membuat aku seperti orang bodoh, tidak, tidak ada. Aku bisa pakai baju yang sama berhari-hari di rumah tanpa satu orang pun menyebut aku bodoh. Aku bisa buang angin di spot manapun di rumah tanpa kawatir kehilangan citra diri. Ah andai saja gereja bisa menjadi sebuah rumah.
-
Memang rumah tidaklah menyelesaikan semua masalah. Masalah yang sama tetap ada disana keesokan harinya, namun rumah adalah sebuah tempat peristirahatan. Rumah adalah tempat dimana aku bisa feel good dan melupakan semua masalah di luar karena aku selalu diterima di rumah. Rumah adalah tempat 'kasih karunia yang berlimpah-limpah' yang tidak ditemukan di tempat manapun yang lain, tidak di tempat hiburan, tidak di pusat perbelanjaan, tidak di menara doa, tidak juga di gereja.
-
"Kita harus hati-hati menggunakan kas gereja", itulah perkataan yang sudah terlalu sering aku dengar di rapat pengurus gereja. "Kita tidak boleh sembarang memberikan uang atau bantuan kepada orang. Kita harus lihat dulu motivasinya apa. Jangan-jangan punya niat jahat. Jangan-jangan jadi ketergantungan. Jangan-jangan kita diperalat. Kita harus berdoa dulu berulang-ulang sebelum kita memberikan bantuan", kata pak penatua. Ah, seandainya ada kasih karunia yang melimpah-limpah di gereja, kita tidak pernah pusing soal ditipu atau diperalat. Bukankah kasih karunia mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan? Bukankah kasih karunia mengajarkan kita untuk selalu memberi tanpa mengharap balasan? Bukankah kasih karunia membuat kita tetap setia mengasihi dan percaya seseorang bisa dan mungkin berubah karena kita gemar menabur perbuatan baik kepada dia? Bukankah kasih karunia Kristus diberikan pada semua orang tanpa memandang motivasi? Bukankah Yesus mati bagi semua orang di muka bumi dan bukan hanya bagi mereka yang menyebut diri kristen? Bukankah justru karena kita dibanjiri dengan kasih karunia yang melimpah-limpah yang semestinya tidak layak kita terima, kita malah diubah karenanya menjadi pribadi yang mengasihi Kristus?
-
Gereja masa kini bukan disetir oleh kasih karunia, namun disetir oleh tujuan-tujuan. Karena indahnya visi dan misi gereja, maka segala hal yang lain pun di korbankan termasuk harga diri jemaat dan mereka yang ada di luar bangunan gereja. Jikalau gereja mau melupakan tujuannya, dan mulai berbalik melihat kebelakang dimana ada banyak orang yang berteriak minta tolong padanya untuk ditolong dan diselamatkan, maka gereja akan mengalami sebuah terobosan besar menjadi gereja yang disetir oleh kasih karunia. Bukankah ketika gereja berani mengambil resiko kehilangan tujuannya, mengorbankan visi, misi, impian, dan cita-cita nya, demi menyelamatkan mereka yang tidak layak diselamatkan, maka gereja telah meneladani Yesus yang telah melakukan hal yang sama bagi mereka?
-
Khotbah pak pendeta sudah selesai dan aku tersadar dari perenunganku ketika kantong kolekte disodorkan padaku. Kukeluarkan uang seribu yang telah kusiapkan sebelum kebaktian. Sembari menyanyikan lagu iringan kolekte, aku mulai berpikir mengenai apa gunanya aku ada di tempat itu. "Gereja sudah bobrok!" pikirku. Aku mulai mengandaikan hari ini adalah hari terakhir aku berkunjung ke tempat yang mereka sebut gereja namun sebenarnya bukan. Aku semakin yakin dan yakin akan keputusanku. Aku lalu bangkit berdiri.
-
Pak pendeta sedang mengangkat tangannya untuk memberikan berkat kepada jemaat ketika aku melihat ada seseorang yang berdiri persis disebelah pak pendeta. Wajahnya seperti wajah orang kebanyakan, sederhana, dan agak gembel. Dia tersenyum padaku dan menatapku dengan tajam. Wajahnya tidak mirip malaikat sama sekali. Dia lebih menyerupai pengemis yang sering kulihat di pinggir jalan. Orang itu berkata kepadaku, "Anak-Ku, sekarang kau tahu apa artinya itu kasih karunia yang berlimpah-limpah. Maukah kau menunjukannya pada orang-orang yang ada disini? Maukah kau mengampuni mereka tanpa alasan tanpa mengharap mereka untuk berubah seperti yang telah Ku-buat padamu? Maukah kau jadi kaki tangan-Ku bagi mereka? Maukah kau memberikan kasih karunia yang melimpah-limpah itu?
-
Bacaan ayat Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Hak Cipta karya ini dipegang oleh pemilik pseudonym JED-ReVoLuTiA™ sehingga setiap penyalinan, pembuatan copy, atau pencetakan harus memiliki izin tertulis atau lisan dari penulis. Ia bisa dihubungi lewat email: jed@revolutia.org

1 comment:

~~Devita~~ said...

bagus Jed, kamu buat buku ajah. bakat loh :D ga berlebihan tapi masuk maknanya.

Post a Comment