01 November 2006

Aquiring Manhood


How many roads must a man walk down

Before you call him a man?

Bob Dylan (1941 - )U.S. singer and songwriter.

Song lyric."Blowin' in the Wind"

Saya merasa saya akan dimusuhi banyak pria karena menulis tulisan ini, namun saya rasa saya harus mengesampingkan semua kekuatiran saya dan mulai menyuarakan apa yang sudah seharusnya disuarakan. Saya sedang bertanya-tanya mengapa menjadi seorang pria bukanlah masalah “gender” atau jenis kelamin, tapi masyarakat memberikan tekanan bahwa menjadi pria adalah sesuatu yang diraih dan malangnya tidak semua orang bisa meraihnya.

Jikalau seorang wanita berperilaku seperti seorang pria, maka kita akan gampangnya menyebut dia “tomboy” dan tidak mempersalahkannya. Namun ketika seorang pria tidak berperilaku sebagai mana pria ‘seharusnya’, maka umpatan “banci” bisa menjadi suatu neraka yang mengerikan. Anda mungkin berjeniskelamin laki-laki, berusia 50 tahun, berkumis dan berjenggot, namun tetap saja akan ada orang yang meragukan kepriaan anda. Fakta di lapangan menunjukan, menjadi pria bukanlah masalah gender, tetapi masalah pengakuan.

"The time of the psychological passing over from boyhood to
manhood is a movable feast.
The legal date fixed on the twenty-first birthday has
little or no connection with it.
There are men in their teens, and there are boys in their forties.”
James Weldon Johnson (1871 - 1938)U.S.
writer, lawyer, and diplomat.

Seorang pria butuh pengakuan sebagai seorang pria dan untuk itulah ia akan berusaha keras untuk membuktikan kepriaannya atau dalam istilah yang lebih umum yakni “kejantanannya”. Seolah-olah saudah ada stadardisasi yang dibuat masyarakat akan tanda-tanda seseorang telah menjadi seorang pria sejati. Hal ini tidaklah menimbulkan masalah apabila yang menjadi tolak ukur adalah sifat-sifat ‘gentlemanship’ atau lebih tepatnya ‘courtesy’. Beberapa orang mungkin menilai ‘knighthood’ yang dibuktikan dengan valor atau dignity. Namun yang menjadi pratanda kepriaan di masyarakat umum sekarang nampaknya sudah bergeser dari siapa menjadi apa.

Seorang pria sekarang menilai kejantanannya dengan tolak ukur wanita yang dikuasainya. Mungkin inilah sumber dari sebagian besar pelecehan seksual masa kini. Seorang pria akan merasa dirinya pria sejati jika dia berhasil mendapatkan wanita sempurna dalam taklukannya yang akan membuat iri pria-pria lain. Itulah sebabnya seringkali krisis jati diri dialami pria ketika dia tidak berhasil mendapatkan wanita impiannya dalam kekuasaannya.

Kalau jaman para kesatriya dahulu kalo honor dan dignity adalah segala-galanya, sekarang nampaknya hal itu malah memiliki sedikit arti. Seorang pria akan merasa dialah pria terjantan sedunia bila semakin banyak wanita-wanita yang bisa ia taklukkan. Seorang pria akan merasa lebih kuat 10 kali jika berhasil berhubungan seks dengan wanita, 100 kali jika dengan wanita non-perawan, dan 1000 kali jika dengan perawan, dan 1000000 kali jika ada lebih yang dari 5 perawan yang ditaklukkan. Hal ini bagi mereka nampaknya lebih membanggakan dibanding meraih medali emas Olimpiade.
Ambilah contoh masalah keturunan. Seorang pria seringkali merasa jengkel kalau belum mendapat keturunan padahal sudah lama berkeluarga bukan karena dia peduli akan anak, namun karena ini masalah pembuktian pada dunia akan kesejatian dirinya sebagai pria. Tidak seperti wanita yang menganggap anak sebagai buah kasih sayang, bagi laki-laki anak seringkali cuma dianggap suatu benda yang semestinya ada di dalam koleksinya. Itulah sebabnya banyak pria yang marah jika istrinya mandul namun masa bodoh dengan anaknya jika anak itu sudah dilahirkan.

Itulah sebabnya seringkali syarat dasar yang dicari para pria yang mempertanyakan kepriaannya dalam mencari pasangan ialah: Apakah ia cantik/seksi? Apakah dia masih virgin? Ditambah segudang pertanyaan basa-basi lainnya. Mungkin harus dipertanyakan apakah yang membuat keadaan menjadi seperti ini belakangan ini. Mungkinkah keadaan dunia yang semakin pasifis menjadi penyebabnya? Atau memang ini sudah ada dari sejak zaman purbakala? Ada yang tahu jawabannya?

4 comments:

Mee Chan said...

cowo mah aneh
ga mau kalah dan ingin pembuktian kalo cowo is the best

william said...

hmmm ... cowo aneh ya ?? itu berlaku untuk umum kah ?

Juli said...

ayam disebut jantan bila bertengger di atas pagar dan mulai berkokok ...

lalu apakah pria akan disebut jantan bila bertengger di rumah pacar dan mulai merokok?

hihihihi ....

sontoloyo said...

wohohohohoohohoho....cowo itu:
Smelly
Sweat a lot
dirty
Hairy

thanks God women love them !!!

Post a Comment