26 November 2006

Jed On Relationship (Part I)


Ada satu kisah terkenal di Bible yang dikisahkan oleh Yesus. Ada dua orang yang sama-sama membangun rumah, namun mereka berakhir dengan ending berbeda karena yang satu adalah orang yang bijaksana, sedang yang satunya adalah bodoh. Menurut Yesus, orang yang bijaksana akan membangun rumahnya di atas sesuatu yang kokoh seperti batu karang misalnya, sedang orang yang bodoh akan membangun di atas dasar yang mudah runtuh, seperti pasir misalnya. Pada awal berdiri, ke dua rumah itu akan sama-sama tampak luar biasa dan tidak bermasalah, sampai datangnya saat krisis seperti badai, banjir, gempa bumi, atau mungkin tsunami yang akan membuat pembangun rumah yang bodoh kehilangan segalanya.

Jed percaya semua hubungan yang diharapkan untuk berhasil harus dibangun di atas dasar yang kokoh, termasuk juga didalamnya hubungan romantis.

Seorang pembangun rumah (kontraktor) modern, tentunya tahu pasti bahwa yang ukuran kekokohan sebuah bangunan tergantung dari pondasi yang diletakkan. Membangun pondasi mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu, perhatian, dan tenaga, namun the results will worth the loss. Mengabaikan pondasi yang berkualitas sama saja dengan menunggu waktu kehancuran bangunan tersebut.

Dalam menjalin sebuah hubungan romantis sebagaimana ibaratnya membangun bangunan, ada beberapa kesalahan utama yang sering dibuat oleh banyak orang, diantaranya ialah tidak adanya planning dan ketergesagesaan. Jika kedua hal tersebut ada dalam sebuah hubungan, maka tinggal menunggu waktu, maka hubungan itu akan rusak musnah.

Planning sangat penting dalam membangun, karena tanpa planning maka sebuah bangunan akan sulit untuk bisa eksis. Planning dalam hal hubungan berarti memiliki hubungan yang terukur yang dibangan tahap demi tahap, batu demi batu, tanpa melewati satu urutan ke urutan lainnya. Dalam hubungan keintiman, prinsip ini sangatlah berlaku. Seseorang mulai dengan menjadi kenalan kita, lalu rekan, lalu teman main, lalu sahabat, lalu sahabat karib, dan terakhir sahabat yang sudah seperti saudara. Seseorang tidak bisa melompat dari satu tahap ke tahap lain seenak hatinya, karena keintiman memerlukan proses, dan proses memerlukan tahap demi tahap.


Dalam hubungan romantis, prinsip yang sama juga berlaku. Jika kita mengharapkan hubungan yang intim dan melekat erat maka kita harus mengikuti tahap demi tahap. Dimulai dengan menjadi kenalan, lalu rekan, lalu teman, lalu sahabat, lalu sahabat karib, lalu pacaran, lalu pertunangan, dan terakhir pernikahan dimana seperti kata Bible, kedua insan menjadi satu daging. Lompati salah satu tahapan dalam proses, maka engkau sedang merusak aturan main dan akan mendapat getahnya di kemudian hari. Orang yang ingin mendapatkan hubungan romantis dari seseorang yang tidak dikenalnya, maka dia akan mendapatkan keromantisan yang dia mau, tapi tanpa keintiman. Keintiman disini bukan berbicara mengenai hubungan intim, tapi kedekatan emosi tanpa batas, dimana kita benar-benar mengenal seseorang.

Oleh karena itu Jed mau menghindari praktek tembak-menembak seperti yang pernah Jed lakukan di masa lalu. Pada waktu itu Jed menganut filosofi seperti yang dianut cowok kebanyakan, bahwa cewek adalah hewan buruan yang harus ditangkap, dan setelah didapat ada 2 pilihan, menjadikannya sebagai mangsa (makanan) atau sebagai pajangan. Sekarang Jed belajar untuk membangun hubungan dari dasar, yakni persahabatan, karena dari persahabatan inilah akan timbul saling mengenal yang akan berlanjut pada level keintiman yang lebih dalam.

Kesalahan ke dua yang seringkali dibuat banyak orang dalam membangun baik bangunan maupun hubungan adalah ketergesagesaan. Mungkin kata syair lagu kuno milik Diana Ross, `you can`t hurry love` itu benar. Bahkan ada ayat di Bible yang dibuat oleh Raja Sulaiman (Salomo) yang berbunyi begini: `Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem, demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!` Mengapa? Membuat proses cinta menjadi tergesa-gesa sama saja dengan menaruh racun dalam sebuah minuman yang pelan-pelan akan mematikan.

Untuk itu diperlukan yang namanya kesabaran. Bagi para dreamers yang sudah memiliki kekasih, pertanyakan juga, adakah kesabaran dalam hubungan yang anda bangun? Jika si doi gak bisa menunggu dengan sabar dalam menjalani proses hubungan, maka akankah dia tetap bisa mempertahankan cintanya di usia renta nanti. Bukankah ketergesagesaan juga adalah nama lain dari nafsu dan egoisme. Kasih itu sabar kata St Paul. Sama seperti sebuah masterpiece dilahirkan melalui banyak kesabaran dari sang seniman, demikian juga hubungan yang berkualitas tidak mungkin muncul dari ketergesagesaan. Oh Tuhan, ajari Jed buat bisa menemukan timing yang tepat untuk menyatakan cinta. Jangan sampai Jed terburu-buru dan merusak bunga yang belum mekar. Buat Jed sabar menunggu. Amin.

4 comments:

JED-ReVoLuTiA said...

Ayo, masak gak ada yang komen seh..

Mee Chan said...

sabar sabar.. dah komen tuh
tapi aku emang gak ol tiap hari seh :)
slamat menjalin hubungan

~~Devita~~ said...

Tulisan yang bagus Jed... ga nyangka Jed nulis gini... Icha jadi terharu bacanya :D...

Jadi Jed sekarang lagi di posisi mana? teman atau sahabat atau yang mana?

~~Devita~~ said...

wakakakkakka... udah kasi komen seh, cuman pas liat2 lagi kok lucu yah, masa jed minta2 orang untuk komen.wakakakkakakak

Post a Comment