03 December 2006

Mere Christianity / The Return Of The Prodigal Son


Salah satu hobi utama gue adalah membaca. Dari kecil, gue sudah mengembangkan kesukaan pada buku. Karena itu, gue memutuskan untuk menulis sedikit tentang buku di blog ini setiap bulannya. Ada total 5 buku yang sedang gue baca saat ini (gue biasanya membaca lebih dari satu buku tiap harinya), yaitu: Spirit & Power oleh ayah-anak Menzies tentang sejarah dan teologi pentakostalisme, Drawing Near oleh John Bevere tentang membangun hubungan yang intim dengan Allah, Surprised by the Voice of the God oleh Jack Deere tentang peran mendengarkan suara Allah di tengah kegerakan gereja masa kini, Mere Christianity oleh CS Lewis, dan The Return of The Prodigal Son oleh Henri Nouwen. Gue mao khusus membahas 2 buku terakhir yang gue sebut di atas.


Mere Christianity oleh C.S. Lewis adalah salah satu buku terpenting dalam dunia kekristenan. Buku klasik inilah yang menyebabkan Lewis dinobatkan menjadi Rasul Apologetik (apologetik artinya pembelaan logis terhadap suatu kepercayaan) Kristen abad 20. CS Lewis mungkin lebih dikenal sebagai penulis dari 7 buku yang terangkum dalam seri The Chronicles of Narnia. Sedikit mungkin yang tahu jika Lewis sebelumnya adalah seorang atheis. Pekerjaan Lewis sebagai dosen sastra medieval di Oxford University menyebabkannya berjumpa dengan J.R.R. Tolkien, penulis trilogi The Lord of The Ring yang sukses besar setelah difilmkan, yang juga adalah dosen sastra di Oxford. Tolkien adalah seorang penganut Katolik Roma yang taat dan sebagai figur yang membawa Lewis kepada iman Kristen. Lewis kemudian tidak mengikut Tolkien menjadi anggota gereja Katolik Roma, tapi lebih memilih berjemaat di Church of England (Anglikan). Latar belakang Lewis sebagai atheis dan profesor menyebabkannya menjadi salah satu apologis terbesar kekristenan di abad 20 disamping tokoh besar lainnya seperti GK Chesterson dan Francis Schaeffer.

Salah satu dalih terkenal yang terdapat di dalam Mere Christianity adalah trilema yang dituturkan Lewis. Menurut Lewis Yesus Kristus dari Nazaret tidak mungkin bisa disebut sebagai seorang guru yang agung, karena pada saat yang sama, Ia mengklaim ke-Tuhan-an dalam diriNya. Bagi sesorang yang mengatakan pada publik bahwa dia adalah Tuhan, cuma ada 3 kemungkinan yang berlaku, entah dia itu orang gila, pembohong, atau memang benar ia adalah apa yang dia katakan. Menurut Lewis, Yesus tidak mungkin dikategorikan sebagai orang gila, karena orang gila tidak mungkin bisa membuat mukjizat seperti yang dilakukan oleh Yesus. Yesus juga tidak mungkin dikategorikan sebagai pembohong karena Yesus pada saat yang sama dianggap sebagai seorang Guru agama yang menekankan nilai-nilai kejujuran dan juga telah membawa banyak orang untuk menjadi jujur. Jadi, cuma ada 1 kemungkinan, yaitu Yesus Kristus benar adalah Tuhan sendiri seperti yang diklaimnya.

Sudah lama gue mao baca buku klasik ini, cuma sayang selama ini bukunya belum beredar di Indonesia. Akhirnya, pas browsing di toko buku Gramedia kemaren, gue berhasil menemukan Mere Christianity yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Pionir Jaya. Judulnya sendiri ditulis dengan Mere Christianity (Kekristenan Asali) dengan harga Rp. 45 ribu saja. Ayo buruan cari buku ini, dijamin tidak rugi.


Buku kedua yang mau gue bahas disini ialah buku berjudul The Return Of The Prodigal Son karangan Henri JM Nouwen, salah satu penulis favorit gue. Buku ini bisa dibilang sebagai masterpiece atau mahakarya terbaik Nouwen selama karir menulisnya. Sudah lama banget gue mau baca buku klasik ini, yang pastinya sejak perkenalan gue dengan tulisan-tulisan Nouwen, namun baru kali ini dapat kesempatan untuk memilikinya. Di kota gue sedang diadakan Book Fair selama 10 hari, pas gue mampir ke stand penerbit Kanisius, gue berhasil mendapatkan mahakarya ini dengan diskon 50% lagi. Gue cuma butuh mengeluarkan Rp. 10.500,- dari kocek gue karena diskon generes yang dibuat si penjual. Bayangkan betapa gembiranya gue pada saat mendapatkan buku yang sudah lama gue cari ini, malah sempet kepikiran sebelumnya mau beli buku ini lewat Amazon.Com namun urung, karena somehow gue yakin bisa mendapatkan edisi bahasa Indonesianya yang diberi judul Kembalinya Si Anak Hilang.

Buku ini merupakan hasil refleksi Henri Nouwen pada lukisan masterpiece pelukis Rembrant yang diberi judul The Return of the Prodigal Son, yang mengambil tema dari kisah kepulangan anak hilang yang dikisahkan Yesus di dalam Lukas pasal 15. Lukisan Rembrant yang menggugah ini, telah menyebabkan Nouwen merenungkan perjalanan rohaninya dengan figur si anak sulung yang iri hati, sang anak hilang yang tersesat, dan sang bapak yang penuh welas asih menerima sang anak kembali di rumah. Nouwen berulang kali menggunakan kata `home` dalam buku ini sebagai sesuatu yang telah kita hilangkan dan rindu kita dapatkan kembali yakni pelukan bapak yang menerima, merangkul, dan mengafirmasi hidup kita. Rumah adalah tempat tanpa prasangka dimana rasa diterima dan diperhatikan didapatkan. Rumah adalah tempat dimana kesalahan kita tidak dihitung, tetapi kebaikan kita mendapat penghargaan yang semestinya.

Henri Nouwen (1957-1996) adalah seorang pastur Katolik yang lebih banyak melibatkan diri di dunia pendidikan kampus pada sebagian besar hidupnya. Bakat besar Nouwen dalam menulis telah menjadikannya salah satu diantara segilintir penulis Katolik yang mendapat penerimaan di kalangan Protestan. Kejujuran Nouwen dalam menulis dimana semua pergumulannya diceritakan secara blak-blakan telah menyebabkannya menjadi seorang teman yang berempati, imam yang bersimpati, guru yang menunjukkan jalan sementara ia mencari-cari jalan yang pas, dan penyembuh yang menyembuhkan luka hati orang lain dengan lukanya sendiri. Nouwen sendiri adalah sumber inspirasi pribadi gue dimana gue menemukan pergumulan-pergumulan gue dalam kehidupan juga telah dilalui oleh Nouwen sehingga gue menemukan seorang sahabat baik dalam dirinya yang dicurahkan lewat tulisan-tulisannya.

Nouwen pernah mengajar mata kuliah spiritualitas di Universitas Notre Dame, Yale, dan Harvard. Namun, Nouwen paling diingat akan kiprahnya selama 10 tahun terakhir hidupnya dimana ia mengabdi kepada komunitas orang cacat mental Daybreak di Toronto. Di masa-masa inilah Nouwen paling produktif dan menghasilkan banyak tulisan bermutu, kebanyakan terinspirasi dari hubungannya dengan Adam, pasien cacat mental parah, yang dirawatnya. Karya klasik Nouwen yang lain ialah Wounded Healer, The Life of The Beloved, Adam: God`s Beloved, dan favorit gue Turn My Mourning Into Dancing.

Sampai jumpa di Book Corner edisi selanjutnya.

1 comment:

Mee Chan said...

jd kepengen beli yg kembalinya si anak hilang
tapi sesuai saran jed
mesti beli yg the control freak di metanoia rungkut 8721872 kan???
huh! kepengen beli

Post a Comment