04 January 2007

Nuts In A Nutshell

Life sucks, but love sucks more.
I even hate love rite now bcoz
love does not love me.
Things would be much easier
if only I can bribe love.
How miserable I am


Lines diatas gak ditulis oleh seorang poet koq, itu dibuat oleh gue sendiri, tanggal 2 Januari malem kemaren. Gue ketik itu ke ponsel gue dan gue kirim ke semua temen-temen gue yang gue pikir bisa kasih masukan, atau minimal, atensi.

Gue sambung lagi:

There are those stupid days when you wish you can have that moment forever, but there are also those stupid days when you wish that you could die tomorrow. Does love love me?

Ada sebuah teriakan dalam diri gue yang sedang menunggu diteriakan. Masalah hubungan memang terkadang bisa membuat seseorang menjadi gila dan kehilangan akal. Tapi memang punya sahabat-sahabat yang bisa mengeluarkan kita dari lobang-lobang akan sangat amat membantu kita dalam kehidupan.

Renesule membales sms gue dengan:

Some questions can only be answered by yourself.
and for some people, that answer leaves them to live by.


Cute Batavia membales sms gue dengan:

Cinta bisa merusak kita dengan dasyat. Kita bisa memilih untuk dikuasai emosi cinta atau mengizinkan logika Kristus ambil alih semua rasa hati. Tiap proses butuh waktu. Yang sabar ya.

Masalah hati kita memang kompleks. Jed sadari banget akan hal itu. Semua hubungan, terutama hubungan cinta penuh tegangan seperti cinta romantis juga memiliki resiko yang besar pula. Sudah banyak orang yang mati kena setrum karena salah bertindak. namun ada juga yang bisa menikmati buah-buah dari hubungan yang baik. Mungkin the basic core ialah: Do we need other people to make us full? Atau mungkin kebutuhan yang kita butuhkan cuma sebatas approval, bahwa kita tetap dicintai, bahwa kita tidak dibenci. Gue barusan saja mendiskusikan ini dengan blogger lainnya, Execute, yang ternyata punya masalah yang mirip seperti gue.

Waktu gue membaca postingan punya Pelangi di OC dengan judul `Leave God Out Of Your Relationship` , apakah menaruh Tuhan dalam frame relationship yang kita bangun itu justru seakan menempatkan semua blame pada Tuhan adalah pertanyaan kuncinya. Ketika sebuah relationship yang kita bangun dan juga kita doakan dan lantas kemudian hancur adalah intervensi Tuhan di dalamnya masih merupakan misteri baik bagi Pelangi maupun gue. Kesimpulan Pelangi berikut ini mungkin bisa membantu:

Intinya, gw percaya Tuhan pasti telah, tetap dan akan terus campur tangan dalam setiap kehidupan kita. Tapi the lesson is kita juga perlu terus mencari hikmat, dan terlepas ada free will dalam arti riil atau enggak, well, hidup itu di tangan kita sendiri sebenernya. Kita bisa menentukan apa yang kita mau n cari hikmat untuk meraihnya. Don`t ask God to fix what we can`t fix. Don`t ask Him untuk memberi `solusi instan` yang membebaskan kita dari tanggung jawab. Sometimes we just have to learn something from it. Mungkin ini gak beda dengan artikel2 klise tentang `doa`. Gimanapun gw masih belajar untuk gak buru2 `menyimpulkan` sesuatu sebagai `ini jawaban Tuhan` atau `Tuhan udah campur tangan dalam masalah ini`. Sometimes it`s merely jawaban atas `request` kita sendiri (terlepas dari kita sadar atau enggak). Kadang hal2 terjadi simply because `we ask for it`.

Tanggal 3 pagi, gue terbangun setelah sebuah mimpi. Dalam mimpi aneh itu, gue melihat diri gue menyusuri deretan gadis-gadis yang sedang dalam posisi menghadap ke sisi lain, jadi cuma terlihat dari belakang saja. Gue melewati gadis demi gadis sampe gue berhenti di belakang seorang gadis, yang ketika gue membalikan badannya adalah seseorang yang gue kenali. Dor. Mimpi selesai. Gue terbangun. Gue bertanya-tanya dalam hati apakah ini adalah petunjuk Tuhan. Terus terang, gue udah putus asa mengadakan pendekatan pada orang ini yang jelas-jelas tidak tertarik berhubungan dengan gue. Tapi deep down inside me seolah ada suara yang mengatakan, she`s the one you love. You gotta fight to get her. Someday, the brick wall will be narrowed down. Gue masih belum berani mengatakan pengalaman itu sebagai sebuah pengalaman rohani atau intervensi ilahi. Tapi gue mulai percaya, mungkin itu kata hati gue yang sebenarnya. Mungkin dia benar orang yang gue cintai di alam bawah sadar gue.

Menulis tentang ini bukanlah expertise gue. Terus terang, gue masih raw and green dalam hal beginian. Begini gue coba menyimpulkan pencarian gue:

Yang kita cari dalam sebuah hubungan sebenarnya adalah sebuah home, yakni sebuah tempat penerimaan tanpa syarat. Home adalah nama lain dari surga di bumi. Jauh dari home berarti kita sedang dalam posisi dihakimi dan dinilai, sesuatu yang sebenarnya tidak kita harapkan. Jed belakangan sadar betapa berkuasanya kata ini: I`ll be there. Itu adalah janji yang powerful. I`ll be there. Pesan yang menunjukan kita mengasihi seseorang bukan hanya si saat hubungan itu memberikan sesuatu bagi kita, namun untuk tidak lari ketika hubungan itu berubah menjadi suatu tuntutan. Di saat malam-malam kelam penuh air mata, apakah ia akan ada disana. apakah dia bisa dihubungi ketika things get worse. apakah aku sendirian? Apakah aku ditinggalkan? Apakah aku sendirian? Apakah aku diterima? (at home) Ada saat-saat dimana ketika harus mengalami hal-hal pahit dalam kehidupan, orang yang kita harapan untuk ada disana (be there) tidak hadir. Mungkin saja dia berjarak dekat dengan kita namun inatensi atau sikap ignorance bisa membuat kita jadi tertolak dan merasa kesepian. Ketika dia tidak bisa menghentikan aktivitasnya dan menemukan kita, apakah benar he/she will be there? Ada saat-saat grace dalam kehidupan. Jed pernah alami ketika dulu motor jed nabrak pintu kaca sebuah toko. Kaca pecah, motor rusak, jed terluka. Dalam situasi seperti ini dimana kita butuh bantuan, siapa yang akan kita hubungi? Tentunya orang yang kita harapkan untuk be there. Kekecewaan akan melanda kita ketika mereka yang seharusnya peduli malah tidak mempedulikan kita. Bagi Jed momen grace terjadi ketika seorang teman gereja mendengar berita itu, segera meninggalkan pekerjaannya, dan mencari jed untuk memberikan pertolongan. The moment of grace. Ternyata ada yang peduli padaku toh. Grace adalah sesuatu yang dilakukan benar-benar for the sake of others tanpa ada unsur keegoisan di dalamnya. So, Grace is there for a reason. A reason to hope exactly. Ketika gak ada orang lain yang memberikan grace ke kita, The Bible menceritakan ada figur Abba yang mengasihi kita tanpa syarat. Yang bukan hanya mencintai kita apa adanya dan bukan sebagaimana seharusnya (karna tidak ada yang demikian), namun juga menyukai kita. Benar-benar menyukai kita. Di saat hubungan dengan manusia mengecewakan, ada Abba yang bisa menjadi tempat pelarian. He will always be there.

Isaiah 46: 4 (The Message by Eugene Peterson)
And I`ll keep on carrying you when you`re old. I`ll be there, bearing you when you`re old and gray. I`ve done it and will keep on doing it, carrying you on my back, saving you.

9 comments:

Anonymous said...

keep on fighting
sarang gue ya: jgn terlalu percaya sama mimpi2 kayak gitu
gue sih percaya ada mimpi yg dari tuhan
tapi gue percaya kalo kita berpikir ttg org tersebut scr terus menerus, kadang2 bisa terbawa mimpi


-meechan-

Tiwi said...

cintailah orang yang layak untuk dicintai *yg mampu memberi dan menerima*,...jadi hidup lebih tenang.

soal mimpi, pernah terjadi saat2 aku mau diputusin sama mantan pacar, dalam mimpi itu *yang ber-ulang2* dia makin jauh...menjauh..sampe akhirnya dalam kehidupan nyata dia bener2 jauh engga kembali lagi.
soal percaya ato tidak, hanya waktu yang bisa buktiin.
Oh ya, hepi new year Jed, sukses buat selanjutnya.

crushdew said...

meski berkalikali terluka..namun aku masih percaya kalo cinta suci en tulus itu ada...

aku suka katakata life sucks but love sucks more nya!

lavender said...

saya juga suka bermimpi karena mimpi mimpi itulah yang membuat diri ini bisa bertahan.

Kalo soal cinta, kemanapun mencari artinya tidak akan pernah ada yang bisa ngasi jawaban yang pasti.
Saya tau seperti apa cinta itu justru ketika saya merasakannya didalam sini.

Bverly said...

kalau udah omong cinta, nyerah deh aku..ngak ngerti sama sekali...:)

Fida Abbott said...

Jed, ngomongin masalah 'Cinta' itu sukar-sukar gampang. Sukar saat kita belum menemukannya tapi gampang setelah menemukannya. Bisa ngomong begini krn aku sudang mengalami berton-ton masalah ini. Dengan kunci berserah dlm Tuhan (bukan berarti nggak berbuat apa-apa loh), DIA akan berkarya dlm hidup Jed. Tinggal sekarang final kuncinya dr Jed. Apakah Jed bisa bertahan dlm kurun waktu pemrosesan dr Tuhan??? Krn DIA menguji Jed sedemikian rupa shg membuat Jed tahan banting. Inilah yg DIA kehendaki agar Jed menjadi seorang yg DIA kehendaki dan menjadi terang/lilin dlm setiap aspek kehidupan Jed.

I have many of the life sharing that can show how miracle HE is in my life.

GBU,
Your friend in USA

bu guru said...

ah, saya kmrin bergumul dgn hal yg sama, tp justru ditampar bahwa ada satu orang yg mencintai kita tanpa syarat..yah s ABBA....setelahna, saya sprti pasrah saja..mengalir dan berjalan saja

dewi said...

hm.. saya pikir kita mampu mencintai klo kita melengkapi diri kita lebih dulu. jadi sesuatu / seseorang tersebut adalah bonus, bukan pelengkap, sehingga yg kita lakukan adalah memberi, bukan meminta untuk dilengkapi. ;)

~~Devita~~ said...

Jed lagi emosi yah? sabar yah....

tapi heran yah, kata2 kamu kok mesti puitis seh?!?!?!

hikzz.. jadi terharu

"Life sucks, but love sucks more.
I even hate love rite now bcoz
love does not love me.
Things would be much easier
if only I can bribe love.
How miserable I am.
There are those stupid days when you wish you can have that moment forever, but there are also those stupid days when you wish that you could die tomorrow. Does love love me?"

Post a Comment