29 December 2003

Tidak Ambisius?

Untuk jadi Presiden Republik Indonesia dibutuhkan syarat yang aneh. Bagi masyarakat kita, latar belakang pendidikan seorang capres tidaklah penting. Apakah seseorang capres adalah seseorang profesor atau tidak, tidak terlalu dipikirkan masyarakat. Itu sebabnya dari 5 orang Presiden Indonesia sampai saat ini, 3 diantaranya (Suharto, Gus Dur, dan Mega) tidak pernah menamatkan S1. Waktu kemaren gue di Perpus, ada seorang bapak yang baca majalah mengatakan "Ooo, Pak Yusril itu S3 toh...". Seseorang yang S3 cuman dapat "Ooh" tapi belum tentu si bapak itu bakal lebih menyukai Yusril dibanding Kwik Kian Gie yang cuman S1.

Apa yang dianggap pintar oleh orang Indonesia juga rancu. Pada zaman orba dulu seolah-olah ada semboyan "Pintar itu Habibie" dan mengidentikan kepintaran dengan Habibie seperti orang Amerika mengidentikannya dengan Einstein. Padahal di kalangan ilmuan Indonesia sendiri, nama Habibie dianggap yang biasa-biasa saja. Malah ada yang melebih-lebihkan mengatakan Habibie bisa bikin pesawat..padahal yang betul ialah Habibie bisa merancang pesawat.

Itu sebabnya ketika Gus Dur menaruh DR. AS Hikam sebagai Menristek..banyak orang yang berang. Padahal Hikam adalah seorang peniliti LIPI meskipun bidang sosial politik. Kepala Hikam yang botak tak lantas membuat orang percaya kepadanya untuk bisa memegang posisi Menristek. Mega tak mau ambil resiko menempatkan 'orang sosial' lagi di kementrian tersebut. Ia memilih "Insinyur" Hatta Radjasa yang beruban sehingga tampak meyakinkan. Bagi orang Indonesia kebanyakan juga menganggap "Insinyur" lebih pintar dari "Doktor".

Untunglah sekarang sudah mulai ada sedikit perubahan. Anak-anak sekolahan sekarang percaya "Pintar itu Kwik Kian Gie". Padahal Pak Kwik sebagai ekonom, seringkali dikritik oleh rekan ekonom karena dasar teori ekonominya lemah. Masyarakat percaya Kwik Kian Gie karena dia dianggap pintar, bukan karena dia 'Anti Konglomerat Hitam" sebagaimana dia dikenal dan dihormati dikalangan "educated".

Balik ke soal Capres. Kenapa tahun 1999, rakyat Indonesia lebih percaya kepada Mega dibanding Amien Rais? hampir semua orang akan mengatakan karena Amien ambisius sedang Mega tidak ambisius.

Lucunya, orang Indonesia menjadikan hal tersebut sebagai kriteria dasar untuk memilih calon presiden. Selain syarat "berwibawa, berkarisma, membela rakyat" ada lagi syarat penting yakni "tidak ambisius".

Entah kenapa bagi orang Indonesia "ambisi" ditabukan.

Dalam jajak pendapat yang diadakan SCTV lewat SMS kita dapat melihat seberapa para capres disukai masyrakat perkotaan. Herannya dikalangan Islam Modernis, nama Hidayat Nur Wahid lebih populis dibanding Amien Rais. Jika kita tanya pada para pemilih tersebut mengapa ia memilih Nur Wahid dibanding Amien, mereka akan mengatakan karena Pak Nur Wahid TIDAK AMBISIUS. Memang sampai sekarang Nur Wahid selalu mengelak mengatakan ia akan mencalonkan diri sebagai presiden. Ia selalu mengatakan partainya kemungkinan besar mengajukan Amien atau Cak Nur sebagai capres. Sekali lagi "tidak ambisius" terbukti lebih populis.

Masuknya nama Aa Gym didalam sepuluh besar polling tersebut juga menarik. Aa Gym ketika ditanya soal menjadi capres selalu ia menjawab saya belum pantas buat itu. Tampaknya taktik "tidak ambisius" ini juga akan membuat Mbak Tutut lebih populis dalam pemilu mendatang dibanding Wiranto dikalangan pendukung orba.

Apakah gue juga mempertimbangkan kriteria "tidak ambisius" dalam gue memilih presiden pada pemilu nanti? Kayaknya tidak deh. Sebagai seseorang yang lahir dan besar di kota dan mendapat pendidikan cukup, gue lebih cenderung menyukai orang-orang berprestasi dan dihormati secara "nasional" maupun "internasional". Orang-orang yang masuk daftar pertimbangan gue sekarang ialah antara Nurcholis Madjid, Susilo Bambang Yudoyono, dan Surya Paloh.

No comments:

Post a Comment