22 April 2008

Global Citizen Anyone?


Sejak berakhirnya Perang Dunia II, dunia mulai melihat bahwa peperangan bukanlah solusi terbaik untuk mencapai sebuah kehidupan yang lebih baik. Penguasa fasis seperti Hitler, Mussolini, dan Kaisar Jepang dianggap sebagai manusia berbahaya karena mereka ingin menyejahterakan rakyatnya sampil menyengsarakan masyarakat lain. Lagipula dunia telah sampai kepada titik dimana perang benar-benar menjadi sangat berbahaya sehubungan dengan teknologi yang berkembang dengan segala macam jenis senapan, rudal, hingga bom yang membunuh bukan hanya para tentara musuh, namun juga para penduduk sipil. Bom atom di Herosima dan Nagasaki telah menjadi contoh bagaimana oleh karena perang, sebuah kota pun bisa hancur lebur dalam sekejap. Berakhirnya Perang Dunia II akhirnya membawa adven gerakan humanisme ke seluruh dunia. Demokrasi dan Komunisme pun tumbuh subur karena mereka bertujuan untuk mencapai kesejahteraan sosial warganya tanpa menyakiti warga negara lain walau akhirnya terlihat bahwa demokrasi lebih bisa beroperasi dibanding pandangan yang dikembangkan oleh Marx tersebut.

Pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, merdekanya negara-negara di Asia dan Afrika, hingga perkembangan teknologi media dari radio ke televisi dan sekarang internet, telah membuat dunia semakin memiliki kesadaran bahwa semua manusia pada dasarnya sama. Gerakan Hak Asasi Manusia secara global telah membawa akses baru kepada pemahaman baru akan 'sesama manusia' dan berakhirnya era rasisme dan fanatisme. Martin Luther King, Jr membuka jalan untuk kalangan kulit hitam di Amerika Serikat, Mahatma Gandhi untuk orang-orang Asia, serta Nelson Mandela untuk orang Afrika.

Bagi generasi milenium, Internet telah menjadi sarana dialog interkultural yang baik. Lewat internet, kita bisa berhubungan dan terlibat dialog dengan mereka yang bermil-mil jauhnya dari posisi fisik kita. Kita bisa mengenal dan belajar akan budaya lain yang berbeda dengan kita dan menghormatinya tanpa melecehkannya. Bahasa Inggris juga menjadi media yang baik untuk komunikasi internasional karena hampir semua negara mengajak masyarakatnya untuk belajar Bahasa Inggris.

Bagi generasi saya yang hidup di awal abad 21, adalah aneh untuk menjadi seorang rasis. Mungkin hanya mereka yang tidak mendapat pendidikan cukup saja yang masih memiliki prasangka rasial terhadap suku atau ras orang lain. Apalagi jika tinggal di Indonesia yang multi-suku dan multi-ras, kalau sampai masih punya pandangan rasis...capeeek deh.

Oleh karena itu, untuk mengkikis rasisme, sangat perlu sekali Pemerintah berperan serta dalam pendidikan Indonesia untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dan pengertian. Namun, pemerintah Indonesia tidak sendirian dalam mencapai cita-cita ini karena ada lembaga seperti British Council yang siap membantu untuk mencapai tujuan yang sama. British Council adalah organisasi internasional kerajaan Inggris Raya dengan basis utama memajukan pendidikan dan kebudayaan. British Council tidak bertujuan sebagai misionaris Inggris untuk meng-inggris-kan dunia, namun mereka mempromosikan apa yang disebut sebagai global citizenship.

Menurut website Bristish Council, global citizen digambarkan sebagai individu-individu yang percaya diri, mandiri, dan dinamis. Mereka selain mahir berbahasa Inggris dan bahasa-bahasa lainnya, juga memfokuskan diri mereka pada pendidikan dan pembelajaran seumurhidup dimana mereka mendambakan pendidikan dan pekerjaan internasional dimana mereka juga bisa memahami budaya-budaya lain yang eksis. Mereka juga adalah pemuda-pemudi yang siap terlibat dalam perdebatan lokal maunpun global akan hal-hal pokok yang dihadapi dunia dewasa ini.

Untuk tujuan inilah British Council lantas mengadakan program yang diberinama Global Xchange. Menurut situsnya, program Global Xchange bertujuan untuk mendorong perkembangan global citizen yang aktif berperanserta untuk mengerjakan perubahan positif di dalam komunitas. Program ini berlangsung selama 6 bulan yang memberikan kesempatan unik kepada pemuda-pemudi dari berbagai negara untuk berkerjasama mengembangkan dan berbagi keahlian untuk membuat kontribusi praktis dimana dibutuhkan dalam komunitas lokal.

Berikut jadwal program Global Xchange yang sedang berlansung saat ini:
GX7, March 2008 - September 2008
  • Communities: Glasgow (UK) & Aleppo (Syria)
    Theme: Social Inclusion & Youth Leadership
  • Communities: Stansted (UK) & Padang (Indonesia)
    Theme: Intercultural Dialogue
  • Communities: Newham (UK) & Iligan (Philippines)
    Theme: Peace and Development
  • Communities: Northern Ireland (UK) & Mombasa (Kenya)
    Participation & Governance and Inter Cultural Dialogue
  • Communities: Luton (UK) & Assuit (Egypt)
    Theme: Youth Participation and Social Inclusion
  • Communities: Manchester (UK) & Salima (Malawi)
    Theme: Social Inclusion
  • Communities: Swansea (UK) & Mooiplaas (South Africa)
    Theme: HIV & AIDS and Youth Leadership
Jadi pengen ikutan neh, meski blom tahu bisa memenuhi syarat atau tidak.
Situs British Council Indonesia: http://www.britishcouncil.org/indonesia.htm
Situs Global Xchange: http://www.vso.org.uk/globalxchange/index.htm

1 comment:

JED-ReVoLuTiA said...

Melalui informasi ini, kami medorong semua rekan untuk memberi komentar yang membangun terhadap postingan atau blog di atas, kemudian kirimkan komentar tersebut ke email kami bcnow60@britishcouncil.or.id disertai link ke blog yang bersangkutan.

Ada sebuah hadiah menarik berupa USB flash modem untuk satu pemberi komentar terbaik tiap periodenya; dan ‘kontes komentar’ ini kami buka sejak 14 hingga 23 Mei 2008.

Ayo segera berikan komentar-komentar terbaik kalian!!

-the bcnow60 team-

Post a Comment