04 June 2008

Membangun Bangsa Lewat Knowledge Economy (Part II)

Tidak ada seorangpun yang dapat menyangkal bahwa abad 21 adalah abad ICT. Apa itu ICT? ICT adalah singkatan dari Information and Communication Techonogies. Dimulai dari ditemukannya Internet yang telah membuat dunia menjadi datar karena di dunia maya tidak lagi mengenal yang namanya batas-batas dunia dan budaya. Perkembangan teknologi telepon genggam juga amat spektakuler sehingga kita bisa melihat bahwa di masa kini jarak bukan lagi menjadi suatu masalah yang serius. Sebagai seorang muda yang tidak gaptek di masa kini, saya pribadi merasakan perbedaan besar antara generasi saya dan generasi orangtua saya. Tidaklah aneh buat saya untuk berkomunikasi dengan teman di lain kota berjam-jam lewat telepon genggam atau mengadakan voice chat dengan teman saya di Amerika tanpa kenal waktu lewat Skype. Sebagai seorang pembelajar, Internet adalah sahabat terbaik saya.

Pada zaman dahulu kala akses kepada pengetahuan (knowledge) sangatlah amat terbatas. Untuk belajar sesuatu Anda harus bertemu langsung dengan sang guru dan mendengarkan semua kuliahnya. Pengetahuan semakin berkembang ketika ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg. Hal pertama yang di cetak oleh Gutenberg adalah sebuah injil dan itu telah mereformasi agama Kristen sepenuhnya lewat Protestanisme karena pencetakan injil telah membuka akses kepada orang awam untuk mempelajari sendiri kitab suci yang sebelumnya hanya menjadi hak istimewa kalangan imam gereja. Sejarah pun berlanjut dan seperti yang kita tahu, mesin cetak telah membuat informasi tersedia bagi banyak orang dan menjadi faktor perubahan dunia. Seorang wanita bernama Harriet Beecher Stowe menulis sebuah buku berjudul Uncle Tom's Cabin yang melukiskan kekejaman perbudakan dan buku itu telah membuka jalan untuk Civil War di Amerika Serikat yang berujung pada penghapusan perbudakan oleh Abraham Lincoln. Di Indonesia, seorang londo menyaksikan kekejaman kolonialisme penjajah Belanda di Indonesia dan menuliskannya dalam sebuah buku berjudul Max Havelaar yang melahirkan politik etis yang pada ujungnya membuka jalan untuk kemerdekaan Indonesia. Semua itu bisa terjadi akibat revolusi pengetahuan akibat penemuan mesin cetak oleh Gutenberg.

Jika pada abad 20, perpustakaan adalah ruang pembelajaran utama, maka pada abad 21 ini dimulai lagi sebuah revolusi pengetahuan karena dunia sudah semakin go digital. Semakin banyak buku yang telah dirubah ke dalam format digital book dan dapat dengan mudah diakses melalui situs seperti ibiblio, Google Scholar dan Questia menyebabkan Anda punya perpustakaan instan di komputer Anda. Bukan kebetulan, salah satu proyek besar untuk pendigitalan buku ini disebut dengan nama Project Gutenberg yang memiliki misi utama mendigitalkan buku-buku yang sudah berstatus public domain.

Perkembangan dunia informasi yang cepat juga membuat mencari informasi semakin mudah. Situs-situs mesin pencari seperti Google dan Yahoo! sudah mulai meluncurkan versi mobile yang dapat diakses melalui telepon genggam. Ketika saya ingin mencari suatu informasi pada saat akan berpegian, misal mencari hotel, tempat wisata, hingga tarif angkutan umum, saya terbiasa untuk bertanya kepada 'Om Gugel' lebih dulu sebelum saya mencari informasi di tempat lain. Setelah 'Om Gugel', teman baik nomor dua saya adalah 'Om Wiki', dimana tersedia informasi melimpah mengenai banyak hal.

Dunia pun sekarang sudah mengenal apa yang namanya Web 2.0. Beda dengan generasi web sebelumnya dimana webmaster adalah raja dari content, sekarang siapapun bisa membuat content. Web 2.0 memiliki manfaat yang sangat besar dalam pengembangan pengetahuan karena meningkatkan kreatifitas dan kolaborasi diantara pengguna, dan yang terutama ialah memperluas information sharing ke level yang belum pernah ada sebelumnya. Terbukti sekarang situs-situs berplatform web 2.0 seperti jejaring sosial (seperti friendster), blog, forum, dan wiki adalah favorit pengguna web masa kini.

Di zaman dimana manipulasi media telah menjadi hal yang lazim, Web 2.0 menawarkan kembali integritas informasi karena content dari web 2.0 dibuat oleh orang awam untuk orang awam. Blog misalnya telah menjadi gaya baru dalam melakukan komunikasi dan menyebarkan informasi. Terlebih lagi perkembangan citizen journalism, yang memungkinkan siapapun untuk menjadi wartawan, adalah kemajuan berarti karena informasi disajikan lebih demokratis dimana kualitas berita dari pada saksi mata tanpa bayaran akan lebih terpercaya. Situs-situs jenis ini sudah mulai merambah dunia maya Indonesia, misal situs Kabar Indonesia, Wikimu, Panyingkul, dan HalamanSatu.Net.

Oleh karena itu, saya sangat memandang perlu pemerintah ikut aktif berperan serta dalam memasyrakatkan penggunaan internet di masyrakat, khususnya kalangan generasi muda. Masalah timbul karena selama ini masyarakat Indonesia terlanjur digobloki dengan prasangka kalau Internet itu identik dengan pornografi. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa pornografi adalah bagian dari keterbukaan informasi masa kini, hal itu hanyalah sebagian kecil dari manfaat yang lebih besar yang bangsa ini bisa raih. Selain akan meningkatkan komunikasi lintas budaya, memasyakatkan global citizenship, Internet juga memiliki peranan yang penting dalam pembangunan bangsa lewat knowledge economy. Semakin besarnya transfer ilmu yang terjadi, maka semakin pasti bangsa kita bangkit dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang maju dan modern.

1 comment:

Retty N. Hakim said...

Saya senang baca tulisan "menggobloki" itu he..he..he..benar juga alih-alih membuat anak-anak melek internet orang tua jadi "parno" karena yang "porno"...salam kenal (eh udah pernah kenalan belum ya?!)

Post a Comment