05 June 2008

Membangun Bangsa Lewat Knowledge Economy (Part III)

Saya pernah bilang dulu di sini bahwa mental bangsa kita adalah ingin sukses dengan mudah. Kita suka yang namanya kemudahan. Dulu penyanyi Oppie dalam syair lagunya menyatakan "Andai a a a aku jadi orang kaya. Andai a a a gak usah pake kerja." Oleh karena itu kita gampang dengan mudahnya tertipu ketika ada seseorang yang mengaku punya harta banyak dan siap membagi-bagikannya. Berita yang saya maksud ada disini.

Saya pernah bilang di tulisan ini sebelumnya bahwa untuk memajukan bangsa yang diperlukan adalah semangat kerja keras dan pantang menyerah. Kita harus berhenti mengharapkan bantuan dari pihak lain dan mulai berdiri di atas kaki kita sendiri. Semua itu dimulai lewat proses yang bernama pendidikan karena ketika kita mencintai didikan maka kita akan berhasil. Amsal Sulaiman menyebutkan, "Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu." Lebih lanjut sang pujangga melanjutkan, "Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati."

Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau kita sendiri tidak menjadikan pendidikan sebagai hal yang utama di negeri ini? Meskipun kenyataan bahwa UUD 1945 menyebutkan pemerintah Indonesia harus menyediakan anggaran sebesar 20% untuk pendidikan, APBN-P tahun 2008 masih hanya mengalokasikan 7% dari total belanja negara untuk pendidikan. Apakah pemerintah tidak serius? Saya berpendapat itu terjadi karena masyarakat kita juga tidak serius menghargai pendidikan, terlebih lagi dibuktikan oleh aksi demo menentang kenaikan BBM yang terjadi di mana-mana belakangan ini. Semua hal ini menunjukkan bahwa rakyat kita lebih mempedulikan harga bensin murah dibanding pendidikan gratis. Alokasi subsidi BBM yang mencapai 18% dari belanja negara adalah angka yang kelewat fantastis seperti yang pernah saya bahas di sini. Jika kita menentang kenaikan BBM, itu berarti kita menginginkan 20% anggaran untuk BBM (karena harga minyak dunia yang semakin naik) dan berdampak pada semakin kecil porsi buat anggaran pendidikan. Lihat saja masyrakat kita, subsidi dikurangi, mereka demo. Pendidikan disubsidi setengah hati malah tidak ada yang protes. Apalagi aksi demo BBM yang dilakukan oleh para mahasiswa adalah aksi yang sangat memalukan karena menunjukkan mereka tidak peduli dengan pendidikan yang murah dan terjangkau.

Dalam era knowledge economy seperti sekarang ini, dibutuhkan pendidikan yang terjangkau, atau bila mungkin gratis, supaya rakyat kita yang ada di bawah garis kemiskinan bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan pendidikan mereka bisa mendapat pekerjaan white collar atau terpacu skill bisnisnya sehingga menjadi pengusaha yang tangguh. Semua ini terjadi jika kita peduli pada pendidikan mereka-mereka yang termarginalkan. Secara individu kita bisa membantu dengan memberi bantuan lewat yayasan-yayasan penyantun beasiswa yang tersebar begitu banyak di negeri ini. Sebagai warga negara kita bisa membantu dengan memberi dorongan pada pemerintah kita menjalankan amanat UUD 1945 untuk meningkatkan belanja negara di sektor pendidikan hingga ke level 20% dengan berbagai cara, misal dengan memotong habis subsidi BBM seperti yang telah dilakukan oleh Malaysia. [Berita disini]

Meskipun diberitakan disini bahwa Presiden Yudhoyono berencana menambah insentif untuk penguasaha ekonomi kreatif kelas menengah ke bawah, saya lebih condong berpendapat bahwa yang lebih utama dari kucuran dana, justru adalah pengetahuan ekonomi itu sendiri. Saya lebih setuju jika diadakan traning-training dan workshop-workshop kewirausahaan yang disponsori oleh pemerintah. Di negeri ini ada banyak sekali pembicara motivator bisnis yang bagus yang bisa direkrut pemerintah untuk memperdayakan para calon pengusaha dengan membuat mereka melek bisnis.

Universitas tempat saya menimba ilmu dulu sebenarnya telah menangkap visi ini dan sebagai akibatnya dibuatlah keputusan rektor yang menyebutkan 'Kewirausahaan' sebagai mata kuliah wajib di semua jurusan. Cuma sayang sekali dalam aplikasinya justru menjadi program yang mandul karena yang diajarkan adalah hal-hal yang teoritis dan tidak praktikal seperti definisi dan sejarah kewirausahaan. Tidak ada praktek lapangan sama sekali dan penilaian berdasarkan soal ujian yang dibuat oleh dosen yang bisa dijawab dengan baik oleh mahasiswa yang pandai menghafal. Dosen pengajarnya pun diambil dari dosen yang sudah ada, dikasih buku teks, dan langsung mengajar. Padahal akan lebih baik jika pihak senat universitas mengundang pengusaha beneran untuk menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah 'Kewirausahaan' itu.

Metode pendidikan kita juga anti kreatifitas karena peserta didik tidak dirangsang untuk membuat sesuatu yang baru atau mengkritisi teori atau pandangan yang sudah ada. Guru yang mewajibkan muridnya menghafal pelajaran justru bagi saya sedang menanam bom waktu di kehidupan para murid tersebut. Karena menghapal timbulah budaya meniru dan kemudian timbulah budaya mencontek dan pada ujungnya lahirnya budaya nasional kita: korupsi. Mengapa kita korupsi? karena kita berpendapat tidak apa-apa korupsi jika tidak ada yang tahu. Tidak apa-apa mencontek asal tidak ada yang tahu. Tidak apa-apa copy paste blog orang lain tanpa izin asal tidak ada yang tahu. Kenapa tidak bikin content sendiri? Karena tidak punya ide. Kenapa tidak punya ide? Karena otaknya tidak dilatih untuk kreatif. Kenapa otaknya tidak bisa kreatif? Karena kita tidak boleh menyanggah pendapat orang yang di atas kita, harus manut dan patuh, dan definisi orang pintar menurut kita ialah jika kita hapal pendapat orang lain. Makanya kita selalu bilang 'katanya, katanya' dan tidak berani berpendapat karena kita takut akan konsekuensi dari memiliki pendapat. 'Pokoknya sama saja deh ama yang lain' adalah aliran politik yang paling besar di Indonesia Raya.

Nah apa hubungannya dengan ekonomi kreatif? Hubungannya ialah bagaimana bisa melakukan ekonomi kreatif jika kita sendiri tidak kreatif. Bagaimana berinovasi jika sendiri tidak tahu bagaimana berinovasi. Bukankah prinsip bisnis paling umum di Indonesia ialah 'kalau orang lain sukses lakukan itu, mari kita tiru rame-rame.' Bagaimana jika ada ide baru yang muncul? Kita akan dengan santainya berkata, 'Udah ah, susah tahu merubah opini orang banyak. Buat apa coba-coba sesuatu yang belum pasti?'. And so on, and so on, and so on. Tidak heran kita akan begini terus sebelum ada dobrakan nyata untuk merubah pendidikan di Indonesia.

4 comments:

M. R. Indrasari said...

Biar aspirasi lo diketahui kaum pemerintah, moga2 mereka baca postingan kali ini ya, Jed. Setidaknya, saudara mereka yang baca lalu menyampaikannya, deh. Eh, minimal coba tinggalin linknya aja di blognya Angelina Sondakh! hehehe...

Emang lucu, ya. Udah tau banyak yang berpotensi tapi ngga punya duit, sekolah malah mahal banget. Siapa berduit dulu baru bisa daftar. Ok. Tapi pemerintah lebih lucu lagi kalau menyimak postingan lo itu, mereka seperti tidak mau capek jadi lebih milih ngasih dana langsung aja (itu pun kurang). Sebuah sikap "nge-boss" yang belum memadai banget untuk disebut "peduli" dengan nasib pembangunan negeri sendiri kelak.

Jevuska said...

Blog baru neh bro.. Siiip. Good Post!!!

Ancilla said...

hai...
hmph, mestinya memang subsidi buku dan bukan subsidi bbm. hehehehe...

khairil imam said...

makasih oom jed sudah menginspirasi saya bahwa kunci untuk membuat skripsi juga kreatif

waaah om jed gue suka gaya looh

Post a Comment