23 January 2012

Escaping The Unlovable Feeling


Cinta adalah isu terbesar di planet bumi. Tidak terhitung banyaknya film, buku, musik, dan berbagai karya seni lainnya yang dibuat untuk membicarakan mengenai cinta. Mengapa demikian ? Itu karena cinta adalah elemen emosi positif terkuat di planet ini. Oleh karena semua manusia memiliki emosi, maka tidak heran jika semua manusia selalu dibuat penasaran dengan topik ini. Saya percaya itu juga salah satu alasan mengapa Anda membaca tulisan ini pada saat ini. Setiap orang ingin dicintai lebih dari apa pun. Banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk menjadi kaya raya, tenar, atau murah hati oleh karena di dalam dirinya ada secercah harapan bahwa jika dia berhasil menggapainya maka dia akan mendapatkan lebih banyak cinta.

Cinta berhubungan dengan kehangatan dan berlawanan dengan kesepian yang diasosiasikan dengan kedinginan. Cinta membuat kita terkoneksi dengan fellow human beings dan memampukan kita untuk memahami orang lain. Semua orang ingin diterima dan penerimaan berarti dicintai. Semua orang tidak ingin ditolak karena ditolak diasosiasikan dengan tidak dicintai. Kita berusaha menonjolkan diri kita dalam berbagai hal yang bisa kita lakukan dengan baik, entah itu dalam hal akademis, karir, kekayaaan, penampilan, atau yang lainnya. Tujuannya tentu saja agar kita beroleh penerimaan dari orang lain. Kesepian datang menyerang ketika ternyata kita gagal mendapatkan cinta meski setelah menonjolkan semua atribut positif yang ada dalam diri kita.

Perasaan unlovable hadir ketika kita merasa kita ditinggalkan seorang diri. Perasaan ini lahir dari keputusasaan karena tidak ada yang mengerti diri kita membuat kita merasa kesepian dan ditinggalkan. Ketika mulut kita tidak lagi bisa menjerit, maka hati kita pun menjerit. Sebagaimana nilai barang ditentukan dari harga barang tersebut dalam mata uang, maka nilai harga diri kita seringkali diukur berdasarkan social currency. Seberapa banyak acceptance yang bisa kita dapat, seberapa banyak pujian yang diarahkan ke kita, seberapa sering kita dicari-cari dan dipedulikan.

Jalan keluar untuk bisa escape dari unlovable feeling  ternyata ialah dengan menentukan self worth diri kita sendiri. Semakin kita memandang rendah diri kita, semakin turun nilai social currency kita di mata komunitas. Elemen utama interaksi sosial ialah confidence dimana kepercayaan diri akan membuat kita bersinar, performing our best, dan melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak bisa kita lakukan. Mereka yang percaya diri akan menjadi magnet sosial karena mereka mampu memberikan kontribusi positif pada komunitas. Cahaya terang akan menerangi diri kita ketika kita berhenti menyalahkan diri kita, lingkungan, atau orang lain dan mulai melihat potensi besar yang ada dalam diri kita masing-masing untuk mewarnai dunia.

Related Post:



Enter your email address:

No comments:

Post a Comment