28 August 2016

Berkelana di Hangzhou dan Suzhou (Bagian II)

Bersantai di tepi West Lake, Hangzhou

上有天堂, 下有苏杭 (shàng yǒu tiāntáng, xià yǒu sūháng)
Atas sana ada Surga, bawah sini ada Suzhou dan Hangzhou

Demikian pepatah kuno yang membawa saya mengunjungi kedua kota yang kental dengan budaya Jiangnan tersebut. Tulisan ini adalah bagian kedua dari seri tulisan saya.

Ketika membayangkan berwisata ke Tiongkok, yang ada di benak banyak orang adalah mengunjungi Great Wall di Beijing, menyaksikan tentara terakota di Xi'an, atau melihat panorama The Bund di Shanghai yang metropolis. Banyak yang tidak tahu keindahan kota Hangzhou dan Suzhou yang sebenarnya adalah tempat wisata favorit warga Tiongkok sendiri dari zaman dahulu hingga sekarang. Pemerintah Tiongkok sepertinya sadar akan hal ini sehingga menjadikan Hangzhou sebagai lokasi pilihan untuk G-20 Summit pada September 2016 dimana kepala pemerintahan dari 20 negara terbesar akan berkumpul termasuk juga Barack Obama, Vladimir Putin, dan Jokowi. Hangzhou juga sedang disiapkan menjadi tuan rumah Asian Games 2022. Pada bagian pertama tulisan saya, saya telah banyak membahas West Lake sebagai daya tarik utama kota Hangzhou. Pada bagian kedua ini saya akan membahas mengenai beberapa lokasi lagi yang telah saya kunjungi di Hangzhou. Harus diingat ada ratusan tempat wisata di kota Hangzhou saja. Waktu saya yang terbatas untuk backpackeran di Hangzhou selama 3 hari tentunya menyisakan banyak tempat yang belum saya lihat. Saya sudah berencana untuk berkunjung kembali di lain waktu.

Seperti yang sudah saya sampaikan di bagian pertama, saya melihat Hangzhou sebagai kota yang indah dengan banyak pemandangan namun selain itu saya menyebutnya sebagai a very livable city. Sebuah kota yang sangat ideal untuk tinggal karena bersih, minim polusi dan kemacetan, aman dan nyaman. Tidak heran kalau menurut survei, Hangzhou berhasil mendapat gelar sebagai Happiest City in China. Siapapun yang tinggal di Hangzhou tentunya akan malas pindah ke tempat lain. Bahkan ada pepatah kuno juga seperti ini, "生在苏州, 活在杭州, 吃在广州, 死在柳州" artinya "Lahir di Suzhou, tinggal di Hangzhou, makan di Guangzhou, meninggal di Liuzhou" sebagai impian orang Tiongkok.

The West Lake Apple Store

Berdasarkan informasi dari teman lokal saya di Hangzhou, kota itu sekarang juga mendapat julukan Sillicon Valley-nya Tiongkok. Mengapa? Karena Hangzhou menjadi basis utama para software developer di Tiongkok dan juga pusat dari banyak perusahaan dotcom. Salah satu yang paling terkenal adalah Alibaba.com yang mempunyai kantor pusat di Hangzhou. Jack Ma sendiri adalah warga asli Hangzhou yang pada masa mudanya berprofesi sebagai tour guide di kota wisata tersebut, sebuah kesempatan yang digunakannya untuk menyempurnakan bahasa inggrisnya dan memperluas wawasannya. Di waktu kunjungan saya yang terbatas, teman lokal saya sempat mengantarkan saya melihat The West Lake Apple Store yang menurutnya merupakan Apple Store terbesar di Asia.

Nah, selain untuk wisata dan juga industri teknologinya, Hangzhou juga merupakan kota legendaris untuk teh. Kita tentunya tahu dari sejarah kalau kebiasaan minum teh dimulai dari Tiongkok sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Kalau kita tanya orang Indonesia mengenai teh yang paling mereka suka, mungkin akan pada menjawab teh botol Sosro. Kalau di Tiongkok, mereka punya daftar yang disebut China Famous Tea (中国名茶 - dibaca Zhōngguó míng chá) yang merupakan peringkat 10 besar teh paling terbaik di Tiongkok. Pada urutan pertama daftar itu adalah 西湖龙井 - dibaca Xī Hú Lóng Jǐng artinya Teh Longjing dari West Lake, Hangzhou. Dulu, kaisar Qianlong dari Dinasti Qing pernah berkunjung ke perkebunan teh di West Lake dan mencoba langsung teh Longjing. Dia begitu kagum dan menetapkan teh Longjing sebagai Gong Cha atau teh kerajaan. Jadi kalau mau merasakan teh paling terkenal dan legendaris di dunia, datanglah ke Hangzhou dan mencoba teh Longjing.

Teh Longjing dari West Lake, Hangzhou

Teh Longjing (dalam bahasa Inggris disebut dengan Dragon Well tea) sudah diakui semua kalangan sebagai teh jenis green tea terbaik di dunia. Menurut teman lokal saya di Hangzhou, cara terbaik menikmati teh Longjing adalah dengan memadukannya dengan air rebus dari mata air lokal. Ada banyak mata air di sekitar West Lake, yang paling terkenal adalah 虎跑夢泉 dibaca hǔpáomèngquán (Dreaming of The Tiger Spring) yang tidak sempat saya kunjungi. Namun teman lokal saya sempat mengatar saya ke salah satu mata air dimana disana ada banyak warga lokal yang sedang antri mengumpulkan air. Saya mengambil botol air saya yang kosong dan mengisinya dengan air mata air tersebut dan langsung meminumnya. Rasanya segar sekali.

Berjalan-jalan di kebun teh di Hangzhou adalah hal wajib bagi semua yang berwisata ke kota ini. Kebun teh yang saya kunjungi berada di Longjing road sesudah bersantap di 绿茶餐厅 dibaca Lǜchá cāntīng (Green Tea Restaurant) yang merupakan salah satu restoran paling terkenal di Hangzhou (antrinya lumayan namun wajib dikunjungi kalau Anda ke Hangzhou). Ada 2 lokasi Green Tea Restaurant di Hangzhou, yang satunya ada di pusat kota dan pastikan yang Anda kunjungi adalah yang original beralamat di 83 Longjing Road. Sesudah bersantap dan menikmati teh, Anda bisa berjalan-jalan di kebun teh terkenal Longjing Village (龙井村), Jika ada waktu, baiknya mampir juga di China National Tea Museum (中国茶叶博物馆) yang ada di kebun teh tersebut. Sayangnya saya tidak sempat masuk ke museum tersebut.

Bicara soal makanan, selain Green Tea Restaurant (绿茶餐厅), restoran lain yang paling terkenal dan wajib dicoba di Hangzhou adalah Grandma's Kitchen (外婆家) yang juga sempat saya kunjungi dan ramainya minta ampun. Grandma's Kitchen terkenal karena kelezatan makanan dan juga harganya yang masuk di kantong. Berikut daftar Hangzhou's best restaurants dari CNN sebagai referensi Anda yang ingin wisata kuliner di Hangzhou.

Anak kecil lucu dengan kostum bhiksu di Lingyin Temple

Berkunjung ke Hangzhou tidak akan lengkap juga tanpa mengunjungi Lingyin Temple (灵隐寺 - dibaca Língyǐn Sì) yang berarti Temple of the Soul's Retreat. Pada awalnya saya tidak begitu tertarik mengunjungi Lingyin Temple karena berpikir paling juga sama dengan kebanyakan kuil lainnya. Atas desakan teman saya, akhirnya saya bersamanya mengunjungi Lingyin Temple dan terkesima akan betapa megahnya kuil tersebut dan merupakan kuil paling megah yang pernah saya datangi. Tentunya saya akan sangat menyesal jika tidak berkunjung kesana oleh karena itu  saya sangat sarankan agar jangan lupa main ke Lingyin Temple ketika berada di Hangzhou. Anda akan menghabiskan minimal 3 jam disana.

Lingyin Temple adalah kuil legendaris yang sudah dibangun dari tahun 328 masehi dan merupakan kuil penting dalam penyebaran ajaran Buddha aliran Chán (atau Zen) di Tiongkok. Ada banyak kuil di komplek Lingyin Temple semua dapat dikunjungi sekaligus dengan berjalan mendaki dari bawah ke atas. Yang pertama Anda akan lihat ialah Fei Lai Feng (飞来峰) atau Peak Flown From Afar dimana ada banyak gua dan pahatan-pahatan patung Buddha yang mengagumkan. Selanjutnya dengan mendaki Anda akan memasuki komplek Lingyin Temple yang terdiri dari 6 kuil megah dalam perjalanan mendaki hingga mencapai puncak bukit dan dapat melihat West Lake dari puncak: 

  • The Hall of Heavenly Kings (天王殿) yang berisikan patung Buddha Maitreya dan Buddha Skanda
  • The Grand Hall of the Great Sage (大雄宝殿) yang berisikan patung Buddha Shakyamuni setinggi 24,8 meter dan Guanyin (dewi kwan im)
  • The Hall of The Medicine Buddha (药师殿) yang berisikan patung Buddha Bhaisajyaguru
  • Sutra Library (藏经楼
  • Avatamsaka Hall atau Huayan Hall (华严殿) dimana terdapat 3 patung Buddha
  • Hall of the Five Hundred Arhats (五百罗汉堂) dengan ratusan patung arhat.

Kuil lain di West Lake yang layak dikunjungi adalah Yue Fei Temple atau Yuewang Memorial Temple (岳王庙). Berbeda dengan Lingyin Temple yang adalah kuil ziarah agama, Yue Fei Temple adalah kuil untuk mengenang dan menghormati jasa seorang pahlawan pada zaman Dinasti Song Selatan bernama Yue Fei. Pada waktu itu Tiongkok utara dikuasai oleh Dinasti Jin (penjajah Manchu) sehingga Dinasti Song harus mengungsi ke selatan dan mendirikan yang disebut kemudian sebagai Dinasti Song Selatan. Yue Fei adalah jenderal yang sukses dalam perang dan pasukannya selalu menang perang melawan tentara Jin. Namun kaisar Song Selatan, Gaozong, waktu itu khawatir kalau Yue Fei terus menang perang maka dia akan berhasil membebaskan kaisar Huizong dan kaisar Qinzong (para kaisar pendahulu) yang ditahan oleh Dinasti Jin. Jika Yue Fei berhasil, maka kaisar Gaozong terancam kehilangan takhtanya. Oleh sebab itu dia menuduh Yue Fei berkhianat dan menghukum mati sang jenderal yang dicintai rakyat tersebut. Kuil ini dibangun untuk mengenang sang pahlawan yang meskipun setia membela negaranya, harus mati ditangan kaisar yang dia layani. 

Seorang anak kecil di Yue Fei Temple (patung Yue Fei terlihat)

Saya tahu Yue Fei dari membaca dan menonton The Legend of Condor Heroes karya penulis favorit saya, Jin Yong. Dalam karya fiksi tersebut, Yue Fei menjadi contoh panutan pahlawan sejati yang setia membela negara walaupun negara dipimpin oleh pemimpin yang tidak jujur dan adil, meninggalkan kesan mendalam pada tokoh utama Guo Jing. Yue Fei meninggalkan sebuah buku catatan perang yang disebut sebagai The Book of Wumu yang diperebutkan banyak pihak. Wumu adalah gelar kehormatan yang disematkan pada Yue Fei setelah dia meninggal.

Bicara mengenai Jin Yong, saya tidak sengaja menemukan 云松书舍 (Yúnsōng shūshě) atau Pine Cloud Studio, sebuah rumah taman indah yang dibangun oleh Jin Yong dengan nuansa tenang dan damai di dalamnya. Anda tidak hanya dapat mengagumi karya-karya fiksi Jin Yong, tetapi juga mengagumi keindahan alam dan keindahan rumah taman ini sendiri. Tempat ini tidak mengenakan biaya tiket masuk karena Jin Yong telah menyumbangkan Pine Cloud Studio untuk Pemerintah Kota Hangzhou setelah selesai dibangun pada tahun 1996. Rumah taman ini menempati lahan seluas 3.200 meter persegi dengan dibangun biaya lebih dari 14 juta yuan dari kocek pribadi Jin Yong. Tempat ini terletak di dekat Hangzhou Botanical Garden dan dekat salah satu titik pemandangan West Lake, Twin Peaks Piercing The Clouds (双峰 插 云).

Singkat kata, ada banyak hal yang bisa dinikmati di Hangzhou namun saya hanya punya waktu terbatas. Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan petualangan saya di Suzhou dan mengunjungi berbagai rumah taman legendaris.

Berikut beberapa hasil jepretan kamera saya:

Yunsong Shushe, rumah taman yang dibangun penulis legendaris Jin Yong

Pahatan Buddha Feilai Feng sebelum memasuki Lingyin Temple

Lukisan dinding menceritakan kecintaan rakyat Song pada jenderal Yue Fei

Patung megah Guanyin dikelilingi oleh puluhan arhat di Lingyin Temple


Bacaan Terkait:

Enter your email address below:

No comments:

Post a Comment