21 December 2008

Kultur Munafikisme di Indonesia


Pernah gak mendengar istilah "gak papa nyontek, asal tidak ketahuan"? Sebuah ucapan yang lumayan lucu terutama jika diucapkan oleh seorang guru kepada murid-muridnya. Ucapan ini kan sama saja dengan membayangkan Tuhan berkata kepada ciptaanNya, "gak papa dosa, asal semua orang senang." Nah Lho? Di kalangan orang dewasa di Indonesia juga ada istilah, "gak papa korupsi, asal gak ada yang tahu", "gak papa selingkuh, asal gak ketahuan istri", dan seterusnya dan seterusnya.

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang mengatakan orang Indonesia lebih mementingkan tujuan dari pada proses. Tujuan itu sudah jelas bagi hampir semua orang Indonesia, yakni menjadi sukses. Sukses itu pun sudah didefinisikan, misal:
  • Bagi yang masih sekolah, sukses artinya dapet nilai besar dan lulus ujian. Nyontek yes, gak lulus no. Cuma guru goblok yang ngajarin muridnya nyontek dan cuma guru idiot yang pura-pura gak tahu kalo muridnya nyontek.
  • Bagi kebanyakan orang, sukses artinya punya hape keluaran terbaru, meski si pemakai sendiri gak ngerti apa itu 3G, bluetooth, dan Simbian. Penghasilan boleh cuma sejuta sebulan tapi HP harus gak boleh ketinggalan zaman. Gak papa gak punya pulsa, yang penting orang lihat kalau HP kita paling keren.
  • Bagi kebanyakan orang di kota, sukses artinya punya laptop yang bisa dipajang, meski pada ujungnya laptop cuma buat dipakai main game, karena gak ngerti untuk apa kegunaan lainnya. Intinya jangan mau kalah dengan Tukul, oke?
  • Bagi kebanyakan orang, sukses artinya punya mobil pribadi. Meski gaji dibawah 10 juta, kita harus bisa punya mobil. Karena mobil jelas menandakan kita lebih kaya dari orang lain.
  • Bagi yang dah merit dan punya anak, sukses artinya tinggal di perumahan elit dan menyekolahkan anak di sekolah (yang katanya) internasional. Meski penghasilan cuma 10 juta per bulan, kita harus tampak seolah-olah income 100 juta sebulan.
  • Bagi yang pengen jadi anggota dewan, sukses artinya punya gelar sederet. Buat apa kuliah susah-susah kalau gelar bisa dibeli dengan mudah. Sekarang beli gelar bisa kredit lagi, nanti kalo udah jadi anggota dewan, kan bisa bayar angsurannya.
  • Bagi yang pengen terlihat alim, sukses artinya sukses menunaikan ibadah haji. Gaji boleh cuma 2 juta sebulan, tapi yang penting bisa naik haji, entah duit siapa yang kita maling.
  • Bagi yang usaha, sukses artinya berhasil memenangkan tender proyek pemerintah, meski dilakukan dengan kesepakatan bagi-bagi uang pelicin. Ya gak heran yang kayak gene bisa terjadi, wong pas sekolah saja sudah jual beli nilai dengan gurunya. Guru yang gajinya cuma sejuta sebulan, kalo dikasih uang 500ribu aja, nilai anak murid sudah bisa berubah dari 6 ke 8.
Akhirnya tidak heran kalau negeri ini pada ujungnya seperti sarang penyamun. Paman Spiderman bilang "kuasa yang besar akan membawa pada tanggungjawab yang besar juga". Tapi kebanyakan memang tidak siap berkuasa. Mengapa? karena tujuan dianggap lebih penting daripada proses. Tujuan yang utama ialah "ingin dilihat orang, ingin dipandang orang, ingin diakui orang lain". Proses boleh saja korup, yang penting kelihatan ada hasil yang dicapai. Bukankah itu ajaran babeh Suharto? Yang penting rakyat lihat ada banyak gedung menjulang tinggi, banyak mall raksasa mewah, dan segala kebanggaan semu lainnya. Yang penting kan apa yang dilihat, nyak.

Pada ujungnya inilah yang akan mengembangkan kultur munafikisme yang telah mengakar di bangsa ini. Kita tidak sadar bahwa kemerosotan moral telah menerpa negara ini, karena ditutup-tutupi dengan apa yang katanya 'pembangunan'. Tapi herannya negeri ini merasa dirinya lebih 'rohani' dari negeri lain. Kita dengan gampang menjelek-jelekkan Amerika dan negara barat lainnya seraya menyalahkan mereka akan segala macam keburukan di negeri ini. Misal:
  • Hubungan seks sebelum menikah. Dicap sebagai free sex yang diajarkan Amerika kepada kita. Kenyataannya mungkin 50 persen pasangan sudah melakukan hubungan badan sebelum menikah di Indonesia, cuma semua ditutup-tutupi. Gak papa hubungan badan, yang penting gak ada yang tahu. Itu kan mottonya.
  • Nah ketika HP kamera mewabah, kita dikejutkan dengan banyaknya foto bugil dan video mesum yang beredar di masyarakat. Trus kita menyalahkan Amerika. Kalau ini benar salah Amerika, alangkah gobloknya bangsa kita, mau-maunya dijajah secara moral oleh bangsa lain. Ya jangan heran kalau sekarang yang selama ini ditutupi, sekarang beredar di mana-mana, selama ini bukan tidak ada, cuma kita semua pura-pura tidak tahu.
  • Kita menyalahkan pornografi sebagai penyebab kemerosotan moral di bangsa ini, menyalahkan internet dan media lainnya, trus membuat UU Pornografi. Masalahnya gimana penyakitnya bisa sembuh kalau obatnya salah. Memenjarakan orang yang mengakses pornografi tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan. Memenjarakan orang yang suka pakai baju seksi juga tidak akan menyelesaikan permasalahan.
  • Akar masalahnya sebenarnya sederhana sekali: karena seks dianggap tabu untuk dibicarakan di sini. Oleh karena dianggap tabu, maka informasi yang benar tentang seks tidak pernah sampai ke masyarakat luas, terutama kalangan muda-mudi. Akibat minimnya informasi yang benar, akhirnya mereka mencari informasi yang salah, dan pada ujungnya oleh karena rasa ingin tahu yang besar maka mereka melakukannya dan menjadi aib di masyarakat luas. Mengapa menjadi aib meskipun sebagian besar orang melakukannya? Karena ada yang ketahuan, akibatnya merusak nama baik kita semua.
  • Contoh kasus, si A pakai baju minim, si B terangsang (karena emang otaknya gak diisi) dan pada ujungnya B memerkosa si A. Dibawah UU yang baru ini, baik si B maupun si A bisa kena pasal pidana dan meringkuk di penjara. Bukankah ini yang kita semua mau?
  • Trus apa hubungannya Amerika dengan ini semua? Katanya gara-gara Amerika kita jadi pakai baju minim. Kita lupa bahwa you can see sudah ada di Indonesia dalam rupa kemben dan you can see through udah ada di Indonesia dalam rupa kebaya.
  • Banyak orang menyangka kalau di Amerika, mereka bisa berhubungan seks dengan siapa saja. Salah besar. Dimana-mana di seluruh dunia, kita hanya bisa berhubungan seks dengan kekasih kita saja. Kalau kita berhubungan seks bukan dengan kekasih kita, itu namanya pemerkosaan Pak, dan itu kena hukuman pidana di semua tempat di dunia ini (kecuali di beberapa tempat di Indonesia).
  • Kasus pedofil itu di Amerika kena hukuman paling berat dari antara semua kejahatan seksual. Di Indonesia, pelakunya dibiarkan bebas dan malah dipuji oleh Wakil Presiden kita. Luar biasa bukan?
Jadi inti permasalahan yang kita hadapi adalah kultur munafikisme yang telah menjalar luas di masyarakat kita. Sorry man, I have to say this again: Agama bukan solusi bagi kemerosotan moral. Untuk punya moralitas yang bagus, seseorang harus menjadi orang terpelajar dan mengerti etika bermasyarakat. Gue yakin cara memperbaiki moral di negeri ini adalah dengan pendidikan. Ketika kita mengajarkan generasi muda di negeri ini bahwa menyontek itu salah, itu adalah sebuah pendidikan moral yang tidak ternilai. Yang harusnya kita ajarkan ialah "Gak papa dapet nilai kecil, yang penting jujur" bukannya "Gak papa nyontek, asal dapet nilai besar dan semua orang senang." Apakah kebanggaan sesuatu yang kita raih dengan cara tidak halal? Mengapa kita harus berpura-pura tampil cemerlang ketika pada kenyataannya kita tidak. Lawan dari munafikisme adalah kejujuran, oleh karena itu mari kita ajarkan kejujuran kepada anak-anak kita. Supaya mereka menjadi orang yang transparan, punya integritas, dan dapat dipercaya. Bukankah Nabi Muhammad (semoga dikarunai damai) dikenal dengan julukan Al-Amin yang artinya orang jujur yang dapat dipercaya? Bukankah Tuhan Yesus Kristus menentang kemunafikan dengan berapi-api? Bagaimana bangsa ini bisa jadi bangsa yang besar jika kita tidak mau mulai jujur berkaca mulai dari sekarang?

Tulisan terkait:

7 comments:

solitudetimes said...

biasanya masalah hubungan usaha. Dan seringnya ujung2nya gue berpikir: yang penting gimana cara ngomongnya biar sama2 enak. Berusaha ngga bo'ong tapi ya... manipulasi bahasa dikitlah.. Kayak "tidak tahu" diganti jadi "kurang tahu". *LOL*

Gue memang harus menanamkan niat lebih serius lagi biar segala tindakan gue lebih bijak dan karena ketulusan, bukan gara2 "ingin menang di mata orang". THANKS for the sharing, Jed! ;)

Hning said...

Jadi, kalau agama bukan jawabannya, apa dong?

Eh, salah ya? Mestinya pertanyaannya: Jadi jawaban yang kita mau cari sebenarnya apa?

Secara sadar atau ngga, semua jawaban sebenarnya udah ada, baik dalam bentuk agamais, hedonis, atau asam-manis. Masalahnya, kita punya sistem saringan informasi yang berlainan; yang bikin kita bisa memutuskan "ini saya bisa terima, kalo yang itu sampah".

Apa yang saya bisa terima, mungkin berupa sampah bagi Anda, begitu juga sebaliknya. Saat kesadaran yang ini udah meresap, kita ga akan keberatan lagi dengan agama, gaya hidup maupun selangkangan orang lain. Yang jadi lebih penting adalah gimana caranya kita bisa hidup sebaik-baiknya, sepenuhnya.

I love your writings. Enak dibaca, enak dipikirin, enak dibawa-bawa untuk nemenin hari.

Lynx said...

ahahaha,, setuju..

sekarang saiyah juga berusaha untuk mencoba jujur.. dan menanamkan prinsip

'gak papa nilai jelek, yang penting jujur'

Berhubung saya sekarang jadi mahasiswa, ada rasa malu kalau dapet nilai gede tapi gak bisa di pertanggung jawabkan..

Tapi, om jed bisa tenang,, nilai gede yang selama ini saya dapet, bisa saya pertanggung jawabkan.. ahahha,,

thx for sharing btw..

jangan lupa maen ke blog saya yaa.. C ya there..

-dharmadharama-

Devita said...

serem euy tulisannya. Kayaknya protes terhadap UU pornography ya pak? kalo i sih emang ga setujunya soalnya abstrak itu UU nya. gini salah gitu salah, ujung2nya yang harusnya masuk penjara malah bebas dan yang harusnya bebas malah masuk penjara. dunia memang edan!

kenji said...

"Gak papa hubungan badan, yang penting gak ada yang tahu"

setahu saya

"ga papa hubungan badan, yang penting ga bunting"

j/k

Rookieonen said...

nice writing dude!
I have to say, in most parts, gw sutejo sama elo!

btw, yg dipuji wakil presiden siapa ya?!?? gw dah lm ga ntn tipi n bc buku. ;p

tumpahruah said...

Kekurangan bangsa Indonesia cuma 1, Gak punya kesadaran. :)
Menurut pandangan gw Bangsa kita sudah jadi bangsa Calo...bangsa Pamrih. Coba saja perhatikan dalam setiap instansi pemerintah utk layanan publik selalu saja ada PUNGLI. Untuk sektor swasta atau bahkan sektor creative industry mau dapetin tender atau pitching yang sesuai prosedur aja susahnya setengah mati. Harus ada koneksi lah harus ada suap a.k.a titipan angpao lah. Pada akhirnya gw berpikir bangsa ini memang layak diremehin sama negara-negara lain. Bangsa ini layak mendapat bencana alam di mana-mana karena sebagian besar orangnya cuma mementingkan target, tujuan, penilaian orang, gengsi dan pamrih..konklusinya bener tulisan Jed..bangsa ini Muanfik bahkan sudah akut.

Post a Comment