14 February 2012

Giving Him Something He Can Feel


"If you want to make someone fall in love with you, you must make him/her think/feel s/he falls in love with you." -- Jed Revolutia
Ada perbedaan besar antara selling dan marketing, itu sebabnya dalam sebuah perusahaan ada terdapat sales manager dan marketing manager dimana keduanya memiliki scope pekerjaan yang terpisah. Dalam dekade terakhir ada lahir sebuah profesi yang disebut sebagai brand manager, dimana ilmu branding adalah perkembangan terbaru dalam upaya sebuah perusahaan untuk mendapatkan sales.

Ujung dari marketing dan branding ialah sales. Upaya marketing dan branding tidak memiliki arti apapun jika tidak menghasilkan sales.

Lalu pertanyaannya, mengapa sebuah perusahaan perlu melakukan marketing dan branding jika ujungnya tetaplah sales? Jawabannya ialah sales saja tidak cukup dan kegiatan sales yang ditopang oleh kegiatan marketing dan branding yang efektif akan meningkatkan sales secara signifikan.

Lalu apa hubungannya ini semua dengan percintaan?

Ada banyak kali upaya PDKT yang dilakukan seseorang ialah cuma selling saja, akibatnya ya success rate-nya jadi rendah.

Contoh paling mudah ialah ketika kamu suka seseorang, lalu kamu tembak dia. Yang ada bukannya diterima, tapi malah diusir jauh-jauh.

Bayangkan jika kita sedang ada di mall, lalu datang orang tidak dikenal yang menghampiri kita untuk menawarkan kartu kredit, KTA, atau produk asuransi apa gitu, how do you feel?

Datang sebagai orang tidak dikenal lalu main tembak-tembak ujung-ujungnya cuma bikin orang lain jadi ilfil ke kita.

Perusahaan yang cuma berfokus pada produk mereka dan melupakan market tidak akan mendapatkan barangnya laku. Kunci utama pemasaran ialah menganalisa kebutuhan pasar dan dari gap yang ada antara kebutuhan dan supply, kita masuk untuk menyediakan apa yang menjadi kebutuhan pasar, hasilnya ialah: laku keras.

Kalau kamu mau mendapatkannya, jangan cuma mikirin diri sendiri saja.

Orang lain juga manusia yang punya kebutuhan dan aspirasi. Tangkap dulu apa kebutuhan dan aspirasi dia, lalu sediakan apa yang dia butuhkan namun belum bisa dapatkan.

Dalam PDKT, kita harus melupakan semua ilusi diri kita, mulai masuk ke dunia orang lain, duduk dan dengarkan lalu berikan.

Semua orang saat ini sedang mencari orang yang bisa memahami diri mereka. Pahami itu.

Orang yang terlalu fokus sama diri mereka sendiri akan sulit berempati dengan diri orang lain dan melakukan persuasi. Coba baca tulisan saya tentang Persuasion untuk mengerti akan hal ini.

Jadi awalnya empati yang ditambah dengan persuasi lalu ditambah dengan sugesti, atau komunikasi dengan alam bawah sadar seseorang.

Sugesti adalah sesuatu yang dilakukan oleh para brand manager masa kini ke target market mereka.

Sugesti adalah membuat seseorang memiliki kesadaran akan sesuatu yang belum mereka sadari sebelumnya.

Mau upgrade seni PDKT mu? Coba tonton video di bawah ini, and tell me what you think?



Komentar kamu saya tunggu di bagian komentar di bawah ini.

Related Posts:


Kalau mau berlangganan blog ini via email, masukan alamat emailmu dibawah ini:

Enter your email address:

2 comments:

RIZAL YAN said...

analoginya pake pendekatan bisnis. kalo menurut hukum fisika gmna?

henny said...

kalau pake hukum fisika, ada yang namanya resonansi. dua benda yang memiliki getaran atau frekuensi yang sama akan beresonansi.
hubungan interpersonal antar manusia pun demikian, cobalah untuk menyamakan getaran dengan orang lain. caranya? menurut saya sama, lebih banyak mendengarkan dan memahami orang lain, lebih berempati.

Post a Comment