24 March 2013

Saving Grace

Menghukum orang jahat belum tentu adalah solusi untuk membawanya kepada jalan kebaikan. Tindakan penyembuhan saving grace (melihat pada sisi mulia dan tidak menghiraukan sisi hina) akan memulihkan yang patah menjadi berguna kembali.

Kisah Les Miserables yang ditulis oleh novelis Victor Hugo di abad 19 belakangan ini mulai populer kembali lewat film musikal dengan judul sama yang diperankan oleh aktor-aktor tenar seperti Hugh Jackman, Russell Crowe, dan Anne Hathaway. Les Miserables adalah kisah mengenai seorang narapidana bernama Jean Valjean, seorang polisi bernama Javert, dan seorang wanita dengan nasib naas bernama Fantine dan putrinya yang bernama Cosette. Tema utama ialah Javert sebagai penegak hukum yang tidak pernah percaya Jean Valjean bisa berubah. Dia memiliki pandangan sekalinya busuk, maka selamanya akan busuk. Pandangan ini dia tanamkan pada Jean Valjean yang juga percaya bahwa dirinya adalah penjahat sejati yang tidak akan pernah berubah. Ketika Jean Valjean dibebaskan dengan bersyarat, dia diterima di sebuah gereja yang memberinya makanan dan pakaian yang layak. Niat jahatnya kembali timbul, dia mencuri peralatan perak gereja dan membawanya kabur pada suatu malam. Dia kemudian ditangkap dan dibawa balik ke gereja berserta dengan barang-barang yang dicurinya. Diluar dugaan semua orang, Bapa Myriel mengatakan bahwa dia memberikan peralatan perak itu kepada Jean Valjean, bahkan masih ada beberapa barang yang belum dibawa oleh Valjean padahal sudah diberikan. Petugas hukum tidak bisa berbuat apapun karena pengakuan Bapa Myriel tersebut, akhirnya Jean Valjean dilepaskan. Merasa tersentuh oleh saving grace yang ditunjukkan oleh Bapa Myriel, Jean Valjean bersumpah untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya. Dia akhirnya percaya bahwa dia bisa menjadi orang baik. Sebuah contoh indah bagaimana saving grace mengubah seseorang.

Saya ingat juga cerita teman saya. Bos di tempatnya berkerja membelikan teman saya mie ayam setiap kali dia datang terlambat ke kantor. Setelah beberapa kali dilakukan, teman saya merasa malu dan akhirnya tidak pernah datang terlambat lagi. Bukti lain kalau saving grace dan bukan api hukuman yang dapat mengubah seseorang.

Paham Behaviorisme mengatakan pada kita bahwa cara terbaik membentuk perilaku seseorang ialah dengan stick and carrot, reward and punishment. Menghukum perbuatan yang tidak dikehendaki dan memberi penghargaan pada perbuatan yang dikehendaki sepertinya adalah pola yang ideal untuk membentuk perilaku seseorang. Yang seringkali dilupakan ialah bahwa pada pencetus teori behaviorisme mendasarkan analisanya dengan upaya untuk mengatur perilaku hewan. Kesimpulan lanjutan mengarah pada manusia sebagai hewan yang cerdas tentunya juga bisa diatur lewat serangkaian proses reward and punishment. Manusia memang seperti hewan, punya rasa takut dan rasa jera, namun yang sering dilupakan ialah manusia punya hati nurani, sedangkan hewan tidak.

Sistem reward and punishment diusung oleh mereka yang menganggap bahwa semua pelanggaran harus dihukum, dengan demikian keadilan ditegakkan. Ketika sistem berjalan dengan baik, maka perilaku komunal dapat diatur. Semakin kejam hukuman, maka akan menimbulkan efek semakin jera. Coba saja lihat di luar sana, berapa banyak yang minta hukuman mati untuk beberapa jenis pelanggaran hukum. Mereka mengusung konsep itu tanpa mempunyai hati dan perasaan, sama seperti orang yang ingin mereka hukum. Terkadang lupa bahwa semua manusia dapat bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tuhan saja maha pengampun, namun mengapa kita harus begitu kejam.

Manusia memiliki hati nurani dan perilaku manusia tidak hanya dapat dilihat berdasarkan pengamatan di luar saja, namun juga pengamatan di dalam, yakni sanubari manusia. Di dalam hati nurani setiap manusia, ada kerinduan untuk menjadi orang yang baik dan orang yang mengasihi orang lain. Jadi, pada dasarnya semua manusia itu baik, namun bisa menjadi jahat oleh karena didorong oleh sifat iblis dan sifat iblis itu harus ditekan sehingga manusia bisa tetap menjadi baik. Kuncinya sebenarnya ada pada bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri: sebagai pribadi yang baik atau pribadi yang rusak. Mereka yang melihat diri sendiri sebagai pribadi yang rusak, akan melakukan tindakan-tindakan yang rusak pula. Kalau saja dia bisa melihat dirinya sebagai pribadi yang baik dan bersih, maka dia akan melakukan juga tindakan-tindakan yang baik dan bersih.

Sedikit banyak ini dapat dijelaskan oleh Broken Windows Theory. Teori ini berdasarkan penelitian bahwa mobil/rumah yang dirusak, akan cenderung dirusak lebih parah, ketimbang mobil/rumah yang ada dalam kondisi yang baik. Contoh paling sederhana ialah mengapa di mall itu lantainya sangat bersih, sedang di pasar tradisional lantainya kotor. Penjelasannya ialah karena kita tidak akan buang sampah sembarangan di lantai yang bersih, namun kita akan buang sampah sembarangan di lantai yang kotor. Ketika kita melihat sampah yang buang sembarangan oleh orang lain, itu menjadi pembenaran untuk kita melakukan hal yang sama, namun ketika tidak ada sampah, maka tentunya secara otomatis kita akan menjaga kebersihan. Solusinya tentunya bukan dengan menghukum si pembuang sampah di mall, namun dengan adanya petugas yang secepat mungkin membersihkan ketika ada sampah, sehingga perilaku buruk tidak menyebar menjadi perilaku komunal. Tindakan saving grace dari pihak mall menyebabkan semua pihak mengalami penyembuhan.

Hal yang sama dapat kita aplikasikan pada diri kita sendiri. Kita menjadi rusak oleh karena adanya 'kaca pecah' dalam diri kita. Ketika kita melihat diri kita sebagai orang gagal atau orang rusak, maka itu akan terus berlanjut pada tindakan-tindakan yang rusak. Ketika kita merasa disakiti dan diperlakukan tidak adil, maka secara tanpa sadar kita akan melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti juga orang lain supaya mereka bisa merasakan rasa ketidakadilan yang kita alami. Ketika kita gagal menerima diri kita sendiri apa adanya, maka kita akan selalu menjadi masalah bagi orang lain. Bagaimana kita melihat diri kita sendiri, akan diterjemahkan menjadi bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Jalan keluar ialah saving grace. Jalan keluar adalah pengampunan dan penyembuhan. Solusinya bukan dengan kita menghukum diri sendiri, namun dengan mengampuni dan menyembuhkan diri kita. Ketika tidak ada 'kaca pecah' dalam hidup kita, maka hidup kita akan tertata dengan baik.

Related Posts:

Enter your email address:

4 comments:

Ika Devita Susanti said...

Tulisan yang bagus sekali. Kadang kita tidak menyadari kalau di dalam diri kita ada pecahan-pecahan kaca yang belum dibersihkan,sehingga kehidupan kita akan terus-menerus kotor tanpa ada perubahan.

Bos saya pernah meminta saya membaca buku berjudul "Citra Diri" karangan Dr.Ir. Fu Xie. Dalam buku itu dijelaskan bagaimana kita bisa memiliki pemahaman yang benar sebagai seorang manusia yang sempurna dan bagaimana kita bisa berubah sesuai dengan citra diri kita yang benar tersebut.

Setelah membaca buku tersebut saya merasa bahwa kadangkala secara tidak sadar, kita memiliki persepsi yang tidak baik terhadap diri kita sendiri, sehingga kita akan mudah sekali terpengaruh dengan hal negatif yang ujung-ujungnya membawa kita untuk melakukan hal-hal yang tidak benar. Hal ini disebabkan karena kita memandang diri kita terlalu rendah.

Jika dikorelasikan dengan tulisan anda ini, kita masih memiliki "kaca pecah" atau "sampah" dalam diri kita. Masalahnya, kita tidak sadar bahwa sampah tersebut harus dibersihkan. Jika “sampah” ini tidak dibersihkan maka dia akan mengundang “sampah-sampah” lain masuk dengan mudahnya. Pembersihan ini memang dari awalnya memang susah, karena “sampah” yang ada sudah terlalu banyak dan menumpuk. Namun harus segera dimulai.

Pembersihan ini dapat dilakukan dengan beberapa hal diantaranya saving grace dan pengakuan dari orang lain. Lingkungan pergaulan juga sangat menentukan materi yang masuk ke dalam kita. Apakah kita berada di lingkungan yang suka “menyampah”, ataukah kita berada di lingkungan yang suka “membersihkan”, dapat mempengaruhi bagaimana jadinya diri kita.

Semoga tulisan ini dapat membuka mata dan hati para pembaca agar kita bisa menjadi masyarakat yang hidup baik dan benar. Semuanya berawal dari kita, para pembaca.





yogacyber said...

sepertinya mereka-mereka di sana tidak banyak belajar dan memahami seperti dari tulisan di atas..

Mochammad I H said...

nice post jed. seperti efek placebo ya.

zhae_onnet said...

yang saya pahami selama ini hanya pola reward and punishment om, sebuah pemikiran baru bagi saya ketika membaca ini. Saya mengenal om jed dari e-book gratis National is Me bang pandji, trus follow twitter, baca2 twit om jed, baca2 tulisan om jed juga. Jujur saya mengagumi tulisan2 dan twit2 om Jed :) karena banyak memberikan pemahaman yang baru buat saya pribadi.

Post a Comment