07 February 2012

The Fish and The Nation (Part Two)


“Give a man a fish; you have fed him for today.  Teach a man to fish; and you have fed him for a lifetime”— Author unknown

"Fishing skill has no use if there is no fish around" -- Jed Revolutia 

Baca tulisan gue bagian pertama dulu di sini. Disana gue membahas tentang sistem pendidikan Indonesia yang salah kaprah, yang tidak mempersiapkan lulusannya untuk siap sebagai tenaga kerja yang handal. Pendidikan difokuskan untuk mencetak akademisi, bukan keahlian praktis yang bisa dipakai untuk mencetak uang.

Salah kaprahnya sistem pendidikan kita terbukti ketika banyaknya tamatan sarjana yang tidak tahu cara mendapatkan uang selain meminta pada orang tua.

Bukankah tujuan pendidikan (pembelajaran memancing) itu ialah untuk menciptakan pribadi-pribadi mandiri yang bisa menghidupi diri mereka sendiri sehingga tidak menjadi beban masyarakat atau negara?

Lalu kita sampai pada situasi dimana banyak tamatan sarjana yang clueless tentang masa depan mereka. Mereka tidak disiapkan untuk mendiri. Akhirnya mereka pun berusaha mencari pekerjaan dengan melamar kesana-kesini, apapun dilamar asal dapat uang. Lalu apa bedanya tamatan sarjana dengan tamatan SMA kalau semua jenis pekerjaan dilamar asal dapat pekerjaan dan penghasilan?

Jadi pertama, sistem pendidikan kita harus diubah menjadi tailored education, dimana pendidikan dipersiapkan untuk menjawab tuntutan kebutuhan pasar akan tenaga kerja handal.

Kedua, kita harus ciptakan tamatan sarjana yang mampu mandiri, tahu bagaimana cara mencetak uang, dan bukan cuma spenders yang konsumtif.

Adalah salah kalau tujuan kamu cari uang ialah untuk sekedar memenuhi kebutuhan. Tujuan kita mencari uang bukanlah untuk memenuhi kebutuhan, apalagi untuk belanja hal-hal yang tidak kita butuhkan. Tujuan kita cari uang ialah agar kita mendapatkan banyak uang untuk kita investasikan lagi dalam bentuk usaha, yang pada ujungnya menumbuhkan ekonomi dan menambah lapangan pekerjaan.

Ekonomi itu ialah situasi dimana ada banyak ikan (baca: uang) yang beredar. Ikan akan semakin banyak jika diternakan. Orang yang punya passion untuk membangun bangsanya akan menternakan ikan supaya semakin banyak orang yang bisa makan ikan. Lapangan pekerjaan adalah solusi bagi masalah ekonomi bangsa.

Jadi setelah kebutuhan dasar kita tercapai, kita harus berpikir untuk berkontribusi ke masyarakat untuk meningkatkan taraf kehidupan. Salah satu caranya ialah dengan menginvestasikan uang kita ke produksi usaha yang padat karya.

Masalahnya sekarang, berusaha dan berinvestasi adalah sebuah kegiatan asing bagi banyak orang Indonesia. Banyak yang berasumsi salah.

Berikut contoh kesalahannya:

  • Wirausaha = gambling. Salah besar! Gambling itu ketika kita menggadaikan uang kita pada probabilitas, artinya untung kalau menang, kalau kalah kita buntung. Semua tergantung nasib dan probabilitas. Wirausaha bukan gambling karena wirausaha dimulai dengan sebuah business plan. Seseorang membuka usaha baru berdasarkan perhitungan cermat kalau dia akan mendapatkan untung. Cuma orang bodoh yang membuka usaha untuk mengharapkan kerugian. Karena ada peluang dan kesempatan yang hampir pasti, maka seseorang berwirausaha.
  • Untuk jadi wirausahawan perlu modal uang yang besar. Salah besar! Modal wirausaha nomor satu itu ialah perencanaan dan strategi. Punya uang tapi tidak punya planning dan strategi, kamu mau bikin apa? Tidak bisa kan. Bukankah semua usaha perlu modal uang? Ya, tapi bukan berarti harus punya uang dulu di depan kan? Jadi bukan soal punya modal uang atau tidak, tapi soal kamu kreatif atau tidak. Kalau mikir pasti nemu deh caranya untuk mulai usaha meski tidak punya uang. Gue pribadi sudah pernah memulai 3 buah bisnis berbeda dengan modal zero rupiah dari kocek gue dan mendapatkan hasil yang lumayan.
  • Jadi wirausahawan itu bakat. Salah besar! Memang benar mencetak uang banyak itu ada faktor bakat, namun tidak perlu bakat untuk mulai mencoba berwirausaha, cuma butuh peluang, planning, strategi, persiapan, eksekusi, dan evaluasi. Pada dasarnya semua orang punya bakat untuk kreatif ketika kepepet, dan terjun dalam dunia usaha adalah salah satu cara yang efektif untuk membangkitkan krativitas dalam diri kita. 

Jadi tunggu apa lagi, mari ikut berpartisipasi membangun bangsa dengan menciptakan ekosistem ikan untuk kemakmuran bersama.

Related posts:


 Enter your email address:

No comments:

Post a Comment